Santri Indigo adalah Komunitas Santri Berbudaya Teknologi yang merupakan kerjasama program CSR PT Telkom Indonesia Tbk dengan HU Republika.
Twitter Facebook Feedburner Google +1 youtube
www.santri-indigo.com
Selamat Datang di Portal Santri Indigo Cilacap
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan

Jangan Meremehkan Orang Lain

Penulis : ZHANtech | Minggu, 24 Mei 2015

Santri-Indigo.Com - Meremehkan dapat diuraikan sebagai sesuatu yang tidak penting, tidak berharga, kecil, sedangkan secara istilah meremehkan dijabarkan sebagai, merendahkan, mengabaikan, memandang remeh bahkan ketika sudah keterlaluan bisa termasuk dalam kategori penghinaan. Dan keduanya merupakan perilaku / akhlaq yang buruk. Ketika kita meremehkan seseorang, ataupun menghina seseorang berarti kita melakukan perbuatan dzolim kepada seseorang yang kita remehkan / yang kita hina.

Pada pembahasan kali ini saya memberi judul tulisan saya dengan judul "Jangan Meremehkan Orang Lain" agar kita bisa bermuhasabah diri dan menjauhkan diri dari perangai buruk seperti diantaranya meremehkan / menghina orang lain.

Dalam surat Al Hujurat, Allah Ta’ala memberikan kita petunjuk dalam berakhlak yang baik,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. Al Hujurat: 11)

Setiap orang pasti memiliki kelemahan dan kelebihan masing - masing. Jangan hanya karena kelemahan yang orang lain miliki kita bisa sepuasnya menghina bahkan menertawakannya. Lebih baik saling melengkapi satu sama lain daripada harus memandang remeh orang lain, karena bisa jadi rizqi yang akan kita dapatkan berasal dari bantuan kerja keras mereka - mereka yang kita remehkan atau kita hina.

Ingat kawan,.. setiap diri pasti memiliki potensi yang besar. Jangan terbawa emosi dengan seseorang yang tidak bisa melakukan apa yang kita anggap sebagai pekerjaan yang mudah, hargailah dia ketika dia mau melakukannya dan mau berlatih agar bisa lebih baik.
komentar | | Read More...

Rencana Jadwal Kajian Harian Masjid 17 Purwokerto

Penulis : ZHANtech | Jumat, 15 Mei 2015

Ikuti kajian harian di Masjid "Tujuh Belas" Purwokerto, yang beralamatkan di JL.dr.Angka No.01 Komplek SMA Muhammadiyah1 Purwokerto

Jadwal Kajian Harian Masjid "Tujuh Belas" Purwokerto antara lain :
  1. Setiap hari senin s/d kamis, dan sabtu ba'da subuh diisi dengan Hafalan Juz 'Amma yang dipandu oleh Ustadz Drs. H. Umar AR.
  2. Setiap hari jum'at dan minggu ba'da subuh diisi dengan Kajian Tahsin (perbaikan membaca Al - Qur'an) yang dipandu oleh Ustadz Syahroni.
  3. Setiap hari selasa dan rabu ba'da maghrib diisi dengan Hafalan Hadits Arba'in.
  4. Setiap Hari Kamis ba'da Isya diisi dengan Kajian terjemah Al - Qur'an per kata.
  5. Setiap Hari Jum'at ba'da Maghrib diisi dengan Kajian Kitab Riyadhus Shalihin.
  6. Setiap Hari Sabtu ba'da Maghrib diisi dengan Kajian Materi Umum.
Kajian ini untuk umum dan tidak dipungut biaya.
komentar | | Read More...

Kandungan Kalimat Syahadat

Penulis : ZHANtech | Senin, 20 April 2015

A. Al'Iqraar (Pernyataan)

Iqrar yaitu suatu pernyataan seorang muslim mengenai apa yang diyakininya. Pernyataan ini sangat kuat karena didukung oleh Allah SWT, Malaikat dan orang-orang yang berilmu (para nabi dan orang yang beriman). Hasil dan ikrarir adalah kewajiban kita untuk menegakkan dan memperjuangkan apa yang diikrarkan.
Syahadat yang berarti ikrar dari Allah SWT, Malaikat dan orang-orang yang berilmu tentang La ilaha illallah.

Ikrar tentang Rububiyatullah (Allah sebagai rabb) bagi manusia merupakan alasan bagi ikrar tentang keesaan Allah SWT. Ikrar para nabi mengakui kerasulan Muhammad SAW meskipun mereka hidup sebelum kedatangan Rasulullah SAW.

Dalil
  • QS. 3:18. Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
  • QS. 7:172. Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)".
  • QS. 3:81. Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya". Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjianKu terhadap yang demikian itu?" Mereka menjawab: "Kami mengakui". Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu".
  • Hadits. Diriwayatkan oleh Al-Hafizh Abu Ya'la Mushili dari Anas bin Malik RA. Berkata Rasulullah SAW membacakan kepada kami ayat," Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan " Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendiriannya," sungguh telah banyak diucapkan oleh banyak orang kemudian kebanyakan mereka kafir: Maka barang siapa yang mengatakannya sampai mati maka sesungguhnya orang itu telah beristiqamah di atasnya"

B. Al-Qasam (Sumpah)

Sumpah yaitu pernyataan kesediaan menerima akibat dan resiko apapun dalam mengamalkan syahaadah. Muslim yang menyebut asyhadu berarti siap dan bertanggung-jawab dalam tegaknya Islam dan penegakan ajaran Islam. Pelanggaran terhadap sumpah ini adalah kemunafikan dan tempat orang munafik adalah neraka jahanam.

Syahadaah berarti sumpah. Orang-orang munafiq berlebihan dalam pernyataan syahadaahnya, padahal mereka tidak lebih sebagai pendusta.

Beberapa ciri orang yang melanggar sumpahnya yaitu memberikan walaa, kepada orang-orang kafir memperolok-olok ayat Allah SWT, mencari kesempatan dalam kesempitan kaum muslimin, menunggu-nunggu kesalahan kaum muslimin, malas dalam shalat dan tidak punya pendirian. Orang-orang mukmin yang sumpahnya teguh tidak akan bersifat seperti tersebut.

Dalil
  • QS. 63:1-2. Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: "Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah". Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.
  • QS. 4:138-145. Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam, (yaitu) orang-orang yang menunggu- nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang- orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: "Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?" Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: "Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?" Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang- orang yang beriman. Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barangsiapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)? Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali- kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.

C. Al-Miitsaaq (Perjanjian yang Teguh)

Mitsaq yaitu janji setia untuk mendengar dan taat dalam segala keadaan terhadap semua perintah Allah SWT yang terkandung dalam Kkabullah maupun Sunah Rasul.

Syahadah adalah mitsaq yang harus diterima dengan sam'an wa th'atan didasari dengan iman yang sebenarnya terhadap Allah SWT, Malaikat. Kitab kitab Rasul-rasul, Hari Akhir dan Qadar baik maupun buruk. Pelanggaran terhadap mitsaq ini berakibat laknat Allah SWT seperti yang pernah terjadi pada orang-orang Yahudi.

Dalil
  • QS. 5:7. Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjiannya yang : telah dekatNya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: Kami dengar dan kami taati . Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati(mu)
  • QS. 2-285 Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat - malaikatNya, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasulNya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali".
  • QS. 2:93. Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): "Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!" Mereka menjawab: "Kami mendengarkan tetapi tidak mentaati". Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: "Amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat)".
  • Hadits. Rasul bersabda: Kalimat yang paling diutamakan untuk diucapkan olehku dan oleh para Nabi sebelumku adalah La ilaha illallah wahdahu la syarikalah.
Kajian di Masjid 17 Purwokerto, Sabtu 18 April 2015
Oleh Ustadz H. Ibnu Hasan, S.Ag, M.S.I.
komentar | | Read More...

Kasih Sayang dalam Al Qur'an

Penulis : Unknown | Selasa, 26 Agustus 2014

Kasih Sayang Sebagai Praktik Dari Pemahaman QS. Al-Fatihah ayat 3
Orang yang memuliakan tetangganya akan mendapat pahala.

Manusia disebut makhluk sosial, artinya manusia tidak dapat hidup sendirian. Oleh karena itu, manusia diperintahkan Allah untuk saling menyayangi. Bentuk kasih sayang sesama manusia dapat dilihat dari sikap tolong menolong, saling menghormati, dan saling menghargai. Jika kita sering berbuat baik terhadap orang lain, maka kita akan dibalas dengan kasih sayang dari Allah. Hal ini sesuai dengan sifat Allah yang dijelaskan di dalam Surah Al-Fatihah ayat 3 :

الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Artinya:
" Yang Maha Pengasih,  Maha Penyayang".  ( QS. Al-Fatihah/1:3)

Allah menunjukkan rasa kasih sayang-Nya terhadap kita dengan berbagai cara, seperti kenikmatan-kenikmatan yang kita rasakan selama ini.

"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitung nya. Sungguh Allah benar-benar Maha Penyayang." (QS.An-Nahl/16:18)

Tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan janganlah tolong-menolong dalam hal keburukan.

Orang yang suka menolong sesama, maka Allah akan menolongnya.

Jangan merasa kita adalah beda, karena kita dihadapan Allah sama.
komentar (1) | | Read More...

Keutamaan Puasa 6 Hari di Bulan Syawal

Penulis : ZHANtech | Senin, 28 Juli 2014

Santri-Indigo.Com - Kita telah melaksanakan ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. Dan setelah bulan penuh berkah itu meninggalkan kita seiring perjalan waktu, hendaklah kita tidak meninggalkan ibadah puasa sunnah yang dianjurkan kepada kita di luar bulan Ramadhan. Di antara puasa-puasa sunnah dan keutamaannya adalah Puasa 6 Hari di Bulan Syawal. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

"Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian meneruskannya berpuasa enam hari bulan Syawal, nilainya sama seperti berpuasa setahun penuh."(HR. Muslim no. 1164).

Itulah dalil dari jumhur atau mayoritas ulama yag menunjukkan sunnahnya puasa Syawal. Yang berpendapat puasa tersebut sunnah adalah madzhab Abu Hanifah, Syafi’i dan Imam Ahmad. Adapun Imam Malik memakruhkannya. Namun sebagaimana kata Imam Nawawi rahimahullah, “Pendapat dalam madzhab Syafi’i yang menyunnahkan puasa Syawal didukung dengan dalil tegas ini. Jika telah terbukti adanya dukungan dalil dari hadits, maka pendapat tersebut tidaklah ditinggalkan hanya karena perkataan sebagian orang. Bahkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah ditinggalkan walau mayoritas atau seluruh manusia menyelisihinya. Sedangkan ulama yang khawatir jika puasa Syawal sampai disangka wajib, maka itu sangkaan yang sama saja bisa membatalkan anjuran puasa ‘Arafah, puasa ‘Asyura’ dan puasa sunnah lainnya.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 51)

Seperti Berpuasa Setahun Penuh

Kenapa puasa Syawal bisa dinilai berpuasa setahun? Mari kita lihat pada hadits Tsauban berikut ini,

عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا) »

Dari Tsauban, bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah Idul Fithri, maka ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Karena siapa saja yang melakukan kebaikan, maka akan dibalas sepuluh kebaikan semisal.”  (HR. Ibnu Majah no. 1715. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Disebutkan bahwa setiap kebaikan akan dibalas minimal dengan sepuluh kebaikan yang semisal. Ini menunjukkan bahwa puasa Ramadhan sebulan penuh akan dibalas dengan 10 bulan kebaikan puasa. Sedangkan puasa enam hari di bulan Syawal akan dibalas minimal dengan 60 hari (2 bulan) kebaikan puasa. Jika dijumlah, seseorang sama saja melaksanakan puasa 10 bulan + 2 bulan sama dengan 12 bulan. Itulah mengapa orang yang melakukan puasa Syawal bisa mendapatkan ganjaran puasa setahun penuh.


Tata Cara Puasa Syawal

1- Puasa sunnah Syawal dilakukan selama enam hari.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa puasa Syawal itu dilakukan selama enam hari. Lafazh hadits di atas adalah: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164).

Dari hadits tersebut, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin berkata, “Yang disunnahkan adalah berpuasa enam hari di bulan Syawal.” (Syarhul Mumti’, 6: 464).

2- Lebih utama dilaksanakan sehari setelah Idul Fithri, namun tidak mengapa jika diakhirkan asalkan masih di bulan Syawal.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Para fuqoha berkata bahwa yang lebih utama, enam hari di atas dilakukan setelah Idul Fithri (1 Syawal) secara langsung. Ini menunjukkan bersegera dalam melakukan kebaikan.” (Syarhul Mumti’, 6: 465).

3- Lebih utama dilakukan secara berurutan namun tidak mengapa jika dilakukan tidak berurutan.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin juga berkata, “Lebih utama puasa Syawal dilakukan secara berurutan karena itulah yang umumnya lebih mudah. Itu pun tanda berlomba-lomba dalam hal yang diperintahkan.” (Idem)

4- Usahakan untuk menunaikan qodho’ puasa terlebih dahulu agar mendapatkan ganjaran puasa Syawal yaitu puasa setahun penuh.

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Siapa yang mempunyai kewajiban qodho’ puasa Ramadhan, hendaklah ia memulai puasa qodho’nya di bulan Syawal. Hal itu lebih akan membuat kewajiban seorang muslim menjadi gugur. Bahkan puasa qodho’ itu lebih utama dari puasa enam hari Syawal.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 391).

Begitu pula beliau mengatakan, “Siapa yang memulai qodho’ puasa Ramadhan terlebih dahulu dari puasa Syawal, lalu ia menginginkan puasa enam hari di bulan Syawal setelah qodho’nya sempurna, maka itu lebih baik. Inilah yang dimaksud dalam hadits yaitu bagi yang menjalani ibadah puasa Ramadhan lalu mengikuti puasa enam hari di bulan Syawal. Namun pahala puasa Syawal itu tidak bisa digapai jika menunaikan qodho’ puasanya di bulan Syawal. Karena puasa enam hari di bulan Syawal tetap harus dilakukan setelah qodho’ itu dilakukan.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 392).

5- Boleh melakukan puasa Syawal pada hari Jum’at dan hari Sabtu.

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa dimakruhkan berpuasa pada hari Jum’at secara bersendirian. Namun jika diikuti puasa sebelum atau sesudahnya atau bertepatan dengan kebiasaan puasa seperti berpuasa nadzar karena sembuh dari sakit dan bertepatan dengan hari Jum’at, maka tidaklah makruh.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab, 6: 309).

Hal ini menunjukkan masih bolehnya berpuasa Syawal pada hari Jum’at karena bertepatan dengan kebiasaan.

#Sumber :  http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/tata-cara-puasa-syawal.html
komentar | | Read More...

Kita Seharusnya Malu Pada Palestina

Penulis : ZHANtech | Rabu, 09 Juli 2014

Santri-Indigo.Com - Tahukah anda? Palestina dan Mesir adalah dua negara pertama yang mendukung kemerdekaan RI.

Lalu ketika negeri mereka butuh pertolongan, dan banyak masyarakat kita yang memberikan bantuan, kita justru sibuk mencela, "Ngapain mengurus luar negeri? Di dalam negeri saja masih banyak yang belum beres!"

Hari ini kita dipermalukan lagi. Di saat negeri mereka masih luluh lantak oleh perang, di saat kita belum juga peduli pada mereka, namun justru Palestina yang mengirim bantuan kepada masyarakat Indonesia yang terkena musibah banjir.

Betapa malunya kita pada Palestina. Mereka sangat mencintai kita. Tapi kita sendiri... sudahkah kita mencintai mereka?


#Save Palestina #Save Gaza

Allahumma ansur ikhwana mujahideen fi Palestine,
Allahumma ansur ikhwana mujahideen fi Syria,
Allahumma ansur ikhwana mujahideen fi Misr,
wa fi kulli makan , wa fi kulli zaman. 
komentar (2) | | Read More...

Kisah Nyata Anak Yatim dan Lukisan Ibunya

Penulis : ZHANtech | Selasa, 01 Juli 2014

Bismillahirrahmanirrahim..

Santri-Indigo.Com - Gambar yang menyayat hati ini diambil dari salah sebuah rumah anak yatim piatu di Palestina, yang menunjukkan seorang anak yatim melukis gambar ibunya di atas lantai dan tidur dipangkuannya, dalam usaha untuk mendapatkan kasih sayang dan belas kasihan seorang ibu.

Tak bisa terbayangkan, berapa banyak tetesan air mata anak ini tumpah untuk sekedar melukis gambar ibunya ini di lantai sebelum ia tidur. Hanya gambaran ibunya dalam benaknya saja, sebab foto pun tak sempat ia simpan dan miliki, entah kemana tersebab perang. Tergambar wajah ibunya yang sedang tersenyum, sambil tertulis di samping gambarnya tulisan yang berbunyi, mama

Kisah seorang anak kecil yang melukis Ibunya pada sebuah lantai ini menggambarkan kepedihan seorang anak yang begitu merindukan kasih sayang seorang Ibu, Ibu anak ini meninggal dalam sebuah peperangan dinegeri para Nabi palestin

Sang anak tinggal disebuah rumah yatim piatu di palestina yang mungkin dirumah yatim ini banyak anak-anak yang menjadi korban ditinggal orangtuanya akibat perang yang tiada berkesudahan antara palestina dan israel

Mereka adalah anak-anak korban kebiadaban israel, mereka anak-anak yang tiada tahu menahu apa yang membuat mereka jadi korban perang yang begitu kejam itu, mereka hanya ingin hidup damai layaknya anak-anak yang lain

Bagi anak-anak yang masih memiliki kedua orang tua syukurilah dengan sebenar-benarnya, jangan sia-siakan pengorbanan dan kasih sayang mereka, berbaktilah dengan sepenuh jiwa raga kita, baik dengan doa untuk kebaikan kedua orang tua maupun dengan pembuktian pemelihaaraan kita sebagai anak dihari tua kedua orang tua, Ibu Bapak kita, jangan sia-siakan.

Berbaktilah pada orang tua kita, datangilah mereka untuk mintakan keridhaan dan pintu maafnya selama nafas mereka masih ada, ukirlah senyum di wajah mereka, kemudian berlaku lemah lembutlah kepada anak-anak yatim dan dhu’afà, santunilah mereka, karena hampir-hampir saja syurga berada di sekitar mereka sebagaimana sabda Nabi kita tercinta.

Ingatlah bantu mereka anak-anak korban perang Palestina, Suriah dan lainnya dengan cara sisihkan sebagaian harta kita buat mereka, mereka perlu hidup layaknya anak anak yang memiliki Ibu Bapak. Mereka juga mempunyai perasaan yang sama seperti kita, hanya saja mereka tak punya tempat untuk berlindung dan berteduh dalam sebuah kasih sayang, dan jika kita diberi kemampuan oleh Allàh Ta’àlà mari menjadi Ibu dan Bapak bagi mereka, kalau bukan kita siapa lagi.

Rabbighfirli wa liwàlidayya warhumà kamà rabbayànà shaghìrà, allàhumma a’izzal Islàm wal muslimìn wanshuril ikhwànanàl mustadh’afìna wal mujàhidìna fì kulli makàn Yà ‘Azìz Yà Qahhàr Yà Rabbal ‘àlamìn .…

Subhanallah..

Silahkan bagikan pesan ini agar semakin banyak saudara kita yang termotivasi melakukan kebaikan ini. semoga yang membagikan termasuk hamba yang cinta Allah dan memudahkan jalannya ke syurga kelak. Aamiin.

Ya Allah,
Ampunilah semua dosa-dosa kami, baik sengaja atau pun tidak, berkahilah kami, ramahtilah kami, berikanlah kami hidayah-Mu agar kami senantiasa dekat kepada-Mu hingga akhir hayat nanti serta sampaikanlah umur kami dan keluarga kami kepada bulan Ramadhan hingga Ramadhan selanjutnya.

Aamiin ya Rabbal'alamin
komentar | | Read More...

Berserah Diri Kala Suka Maupun Duka

Penulis : Unknown | Selasa, 17 Juni 2014

Dikala hati mulai merintih, disaat hati merasa teriris dan rasa bimbang merasuki setiap ruang hati ini. Disaat itulah kita harus memasrahkan semuanya atas segala perasaan yang kita dapat, baik suka maupun duka.

Aku yakin dan percaya dibalik kesulitan, Allah sudah mempersiapkan seribu kali kemudahan jika kita melewati kesulitan ini dengan ikhlas. Tidak semudah membalikkan telapak tangan jika kita ingin mendapatkan kebahagiaan, diwajibkan agar kita berusaha dan berdo'a. Terkadang apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan.

Kita harus selalu optimis dalam menjalani hidup ini. Bahagiakan dirimu, karena kebahagiaan berawal dari hatimu.

Pejamkan matamu,istirahaatkan ragamu dan bayangkan orang-orang yang kamu sayangi. Mereka akan selalu mendukung dan mendoakanmu.

Belajarlah untuk selalu menjadi pribadi yang baik dan dewasa.
Dewasa itu ketika kita dapat menghargai dan membahagiakan orang lain dengan kemampuan kita.
Kesempurnaan hanya milik Allah, kekurangan ada pada diri ini.
Give your smile to everyone, but give your love to one man person
Positive Thinking Is a Better :-)

komentar (1) | | Read More...

Semua Pasti Berakhir

Penulis : ZHANtech | Selasa, 10 Juni 2014

Santri-Indigo.Com - Karena orang - orang mukmin tahu bahwa mereka akan diuji dalam kehidupan dunia ini, mereka melihat berbagai peristiwa yang terjadi dengan pandangan masa depan.

Apa maksudnya?

Pada hakikatnya, seberat dan sesulit apa pun musibah yang menimpa, tentu tiada berarti karena semuanya pasti berakhir dan lenyap. Misalnya sejumlah orang dituduh melakukan suatu tindak pidana secara tidak benar, hingga menyebabkan mereka mengalami berbagai macam perlakuan zalim dan semena - mena. Namun, kebenaran pasti muncul pada akhirnya. Jika pun kezaliman tidak berakhir di dunia, para pelaku kezaliman akan mendapat hukuman pada hari kiamat kelak atas tindakan yang telah mereka lakukan. Sementara itu, mereka yang dianiaya menantikan balasan atas kesabaran dan pahala dari Allah.

Waktu pasti berlalu dengan cepat dan semua permasalahan pasti berakhir secepat kedipan mata. Al-Qur'an menjelaskan bahwa Allah berjanji menjadikan ujung akhir setiap ujian yang menimpa kaum muslimin sebagai sesuatu yang nyaman dan menyelamatkan.

"Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Al - Insyirah : 5-6)

Untuk itu, orang - orang mukmin percaya atas keadilan Allah yang mutlak dan menanti jalan keluar dari-Nya tanpa putus harapan. Mereka senantiasa percaya bahwa sesudah kesulitan pasti ada kemudahan baik di dunia maupun di akhirat. Inilah yang kami maksud memandang segala kejadian dengan pertimbangan masa depan.

Kaum muslimin tahu, mereka adalah para saksi atas takdir mereka sendiri, juga takdir semua manusia yang ada disekitar. Mereka menyaksikan segala sesuatu dengan sabar, percaya, dan tunduk tanpa mampu menghentikan laju berbagai kejadian atau mengubah alur perjalanannya, karena itu semua terjadi berdasarkan ilmu Allah.

Banyak sekali ayat Al-Qur'an menanamkan makna ini di benak mereka, diantaranya,"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi bisa jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah : 216)

Dengan kata lain, segala kejadian yang tidak berpihak pada orang - orang mukmin, pada akhirnya akan berubah menguntungkan mereka jika mereka tetap berpegang pada keimanan kepada Allah dan bersabar menghadapi takdir-Nya.

Ujian - ujian yang datang adalah masa pelatihan untuk memperdalam keimanan dan memperkokoh perilaku baik, hingga secara ruhani mereka menjadi semakin matang dan cerdas, derajat mereka pun makin menanjak tinggi disisi Rabb mereka di surga.

Mereka yang memahami posisi rohani luhur ini adalah kelompok orang - orang mukmin yang menjalankan perintah Allah dari lubuk hati yang paling dalam. Sementara mereka yang tidak menyerahkan kendali urusan kepada takdir dan sama sekali menolak agama, mereka pasti runtuh karena putus asa, takut, dan terguncang. Tiada lagi harapan untuk bisa selamat. Mereka akan tetap berada dalam kesengsaraan ruhani, selama dasar harapan kenikmatan akhirat padam dalam hati mereka.

"Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan - akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikian Allah melimpahkan siksa kepada orang - orang yang tidak beriman." (QS. Al-An'am : 125)

Kekosongan ruhani membuat mereka menolak takdir Allah, karena mereka memperlakukan diri mereka sendiri sedemikian jahat.

Dengan ksempurnaan kuasa dan luasnya ilmu yang dimiliki, Allah menentukan tempat kembali seluruh manusia dan mengusai segala sesuatu yang berada dalam kuasa-Nya. Ini saja sudah merupakan nikmat tiada tara bagi orang - orang mukmin.

Sementara mereka yang redup cahaya imannya, atau bahkan padam, mereka tidak mengetahui kadar nikmat ini. Mereka tidak mampu tunduk pada garis takdir yang sudah ditetapkan, hingga pada akhirnya mereka pun menyerah putus asa hingga bertemu Allah. Kondisi strategis ini merupakan hukuman ruhani yang sengaja mereka timpakan pada diri mereka sendiri, lantaran sedikitnya kepercayaan mereka kepada Allah.

"Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusia itulah yang menzalimi dirinya sendiri." (QS. Yunus : 44)
komentar | | Read More...

Rahasia Dibalik Ujian

Penulis : ZHANtech | Jumat, 18 April 2014

Santri-Indigo.Com - Allah memberitahu kita bahwa orang - orang mukmin akan menghadapi banyak sekali ujian dalam kehidupan. Jiwa dan harta benda mereka akan diuji. Tidak tertutup kemungkinan orang - orang kafir akan memasang banyak perangkap untuk mereka, atau akan menuduh mereka secara batil dan dusta. Dengan kata lain, orang - orang mukmin akan menghadapi banyak sekali hal - hal yang tidak diinginkan disetiap tahap kehidupan.

Tetapi, yang paling penting adalah berpegang pada iman dan akhlak - akhlak Al-Qur'an saat menghadapi bverbagai macam kesulitan. Hal itu agar mereka senantiasa ingat kepada Allah, bersyukur atas segala nikmat-Nya, dan yakin bahwa musibah dan ujian apa pun yang menimpa, akan berujung pada kebaikan semata.

Orang mukmin secara otomatis harus menghiasi diri dengan akhlak - akhlak Al-Qur'an saat senang, agar ia siap ketika menghadapi kesulitan dan musibah. Tidak adanya tawar - menawar terhadap akhlak yang baik, merupakan bukti nyata kekuatan iman orang mukmin.

Kaum muslimin yang menenggak getirnya kesabaran menghadapi kemiskinan, kelaparan, rasa takut, kerugian baik bersifat materi maupun non materi, menderita berbagai macam penyakit, ancaman orang orang kafir, didustakan, ditipu, dan sebagainya, akan meraih pahala besar sebagai balasan karena mereka berpegang pada akhlak - akhlak mulia.

Al-Qur'an menyuguhkan kepada kita sejumlah contoh perlakuan zalim dan semena - mena yang diderita para nabi dan pengikut-nya yang beriman. Kisah salah seorang raja Mesir kuno terhadap bangsanya sendiri adalah salah satu diantara sekian banyak contoh yang disampaikan Al-Qur'an.

Melalui contoh itu Allah mengajarkan kepada kita bahwa itulah cara Allah untuk membersihkan hamba - hamba-Nya yang beriman. Allah berfirman "Dan (ingatlah) ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir'aun dan) pengikut - pengikut Fir'aun. Mereka menimpakan siksaan yang sangat berat kepadamu. Mereka menyembelih anak anak laki - lakimu dan membiarkan hidup anak - anak perempuanmu. Dan pada yang demikian itu merupakan cobaan yang besar dari Tuhanmu." (Al-Baqarah : 49)

Ayat ini menjelaskan, segala halangan dan rintangan yang disiapkan orang - orang kafir di jalan kebaikan merupakan ujian bagi mereka yang beriman. Karena mereka bersabar dengan berpegang teguh pada akhlak - akhlak utama dan keberanian, merasa tenang saat menghadapi berbagai krisis dan ujian, saat itulah pahala mereka dilipatgandakan dan derajat mereka akan diangkat di surga - surga kekal abadi.

Al-Qur'an menggambarkan kepada kita seperti apa kondisi orang - orang mukmin, apa saja beban berat dan ujian yang akan mereka hadapi, dan bagaimana pula keteguhan mereka dalam berpegang teguh pada kebenaran. Allah berfirman, "Dan Kami pasti akan menguji kamu sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang - orang yang sabar, (yaitu) orang - orang yang raji'un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang - orang yang mendapat petunjuk." (Al-Baqarah : 155-157)

Percaya kepada Allah dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya seperti yang disebutkan dalam ayat diatas, sungguh sebuah contoh menawan yang menuntun kaum muslimin secara keseluruhan. Namun, orang -orang kafir tidak memahami makna kepercayaan ini, lantaran mereka berbuat dan bertindak sesuai standar - standar keliru lagi menyimpang. Mereka pikir satu - stunya cara meraup kekayaan adalah menceburkan diri dalam lumpur kehinaan harta benda duniawi, sehingga mereka tidak mampu menghadapi berbagai kesulitan yang menghadang. Mereka pun dicekam rasa takut, kemudian mereka mencampakkan keimanan. Na'udzu billah.

Adapun kaum muslimin, mereka memahami rahasia di balik semua ujian dalam kehidupan dunia. Mereka tahu bahwa cara terbaik yang harus di lakukan dalam menghadapi ujian adalah mengharap pahala dan bersabar. Mereka menghiasi diri dengan akhlak - akhlak Al-Qur'an dan mencurahkan segala tenaga serta kemampuan untuk memperkokoh akhlak - akhlak Al-Qur'an di dalam jiwa orang lain. Dengan demikian, setiap permasalahan yang mereka hadapi merupakan bukti dari sisi lain bahwa mereka tetap meniti jalan Allah yang lurus.

Allah sering kali memberitahukan dalam Al-Qur'an tentang ketetapan - ketetapan yang tidak berganti dan berubah sepanjang sejarah. Kaum mukmin selalu menghadapi berbagai macam kesulitan, beban berat, dan musibah yang disebabkan oleh tidakan - tindakan zalim orang - orang kafir. Ini merupakan salah satu ketentuan Allah. Meski demikian, orang - orang kafir sama sekali tidak berhasil mencapai tujuan - tujuan yang mereka bidik.

Inilah salah satu diantara sekian banyak ujian yang diingatkan Allah, yang tidak menutup kemungkinan akan dihadapi orang - orang mukmin. Mereka akan masuk surga jika menghadapi semua itu dengan sabar, sebagaimana yang dilakukan oleh para pendahulu mereka.
komentar | | Read More...

Allah Menguji dengan Kebaikan dan Keburukan

Penulis : ZHANtech | Kamis, 17 April 2014

Santri-Indigo.Com - Orang - orang mukmin diuji dalam kehidupan dunia dengan berbagai macam ujian. Allah mengabarkan kepada kita bahwa ujian - ujian yang diberikan berkisar antara standart kebaikan dan keburukan melalui firman-Nya, "Dan Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi manusia sebelum engkau (Muhammad); maka jika engkau wafat, apakah mereka akan kekal? Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami" (Al-anbiya : 34-35)

Manusia pasti diuji dengan berbagai bentuk cobaan. Sebagai contoh, kala manusia menikmati berbagai macam kekayaan, kekayaan tersebut harus digunakan sesuai tuntunan agama, agar ia meraih ridho Rabb dengan mengikhlaskan segala amalan dan niat untuk Allah semata, tunduk pada semua perintah-Nya, dan mengikuti ajaran-Nya.

Jika menusia tergoda oleh kenikmatan - kenikmatan kehidupan dunia fana, dan terjerembab serta tenggelam dalam kebodohan, maka dunia akan melalaikan mereka dari inti hakiki penciptaan mereka. Namun, sebanyak apa pun nikmat yang diterima orang - orang mukmin, mereka akan tetap memuji dan bersyukur kepada Allah selama nyawa masih dikandung badan.

Kadang manusia juga diuji dengan berbagai penyakit, musibah dan tekanan yang dilakukan orang - orang kafir, diuji dengan tutur kata yang tidak baik serta ejekan. Namun, orang - orang Muslim tahu bahwa semua itu adalah bagian dari ujian.

Untuk itu, mereka berpedoman pada sifat sabar sehingga tidak ada keburukan yang menimpa, dan mereka pun meraih keberuntungan. Mereka yang beriman itu bertransaksi jual beli dengan Sang Pencipta. Mereka tukarkan kehidupan dunia dengan akhirat yang kekal. Al-Qur'an menuturkan, "Tetapi Rasul dan orang - orang yang beriman bersama dia, (mereka) berjihad dengan harta dan jiwa. Mereka itu memperoleh kebaikan. Mereka itulah orang - orang yang beruntung. Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Itulah kemenangan yang agung." (At-Taubah : 88-89)

Ayat - ayat tersebut menjelaskan, kehidupan di dunia dimata orang - orang mukmin merupakan medan jihad di jalan Allah. Mereka akan senantiasa mencurahkan segenap kemampuan sebelum meraih ridha Allah.

Badiuzzaman menuturkan bahwa dunia adalah negeri tempat bersusah payah dan ketaatan yang harus dilalui manusia, dunia penuh dengan hal - hal yang tidak disukai sekaligus banyak sekali syahwat disana. Balasan mereka yang rela menanggung beban berat dan menghadapi semua musibah dengan kesabaran adalah balasan besar.

Perhatikan penuturan Badiuzzaman berikut, "Dunia ini tidak lain adalah medan ujian dan cobaan. Dunia adalah negeri tempat beramal dan beribadah, bukan tempat untuk bersenang - senang dan bernikmat ria. Ia juga bukan tempat untuk mendapatkan pahala dan balasan. Mengingat dunia merupakan negeri tempat beramal dan beribadah, maka berbagai penyakit dan musibah -- selain musibah di dalam agama dan dengan syarat dihadapi dengan sabar -- maka musibah memang sesuai dengan amal yang dikerjakan.

Musibah bahkan selaras dengan ibadah yang dilakukan, karena sabar bisa memperkuat seseorang untuk beramal dan memikul beban berat ibadah. Seseorang tidak patut mengeluhbeban berat beramal ataupun ibadah. Ia justru harus bersyukur kepada Allah atas semua itu, karena penyakit dan musibah  yang menimpa membuatnya meraih pahala dan ia dinilai beribadah setiap saat ketika melalui berbagai ujian itu.

Kata - kata diatas penting untuk kita renungkan. Seperti yang telah kami sampaikan sebelumnya, manusia diwajibkan untuk taat kepada Allah, berserah diri pada Putusannya, dan senantiasa menjalin hubungan kuat dengan Sang Pencipta meski kondisi dan situasi berubah seperti apa pun. Mungkin bersabar menghadapi sesuatu yang tidak diinginkan yang banyak terjadi dalam kehidupan dunia ini adalah salah satu faktor yang mempererat ikatan ini dengan Allah. Hal - hal yang tidak diinginkan bisa saja terjadi diluar perhitungan dan berakhir atau terus berlalu seperti yang Allah kehendaki.

Sebagai contoh, bisa saja orang kaya jatuh miskin, bisa jadi orang sukses tiba - tiba menemui kegagalan tak terduga, seseorang kehilangan orang yang dicintai, atau sakit menahun tanpa kunjung sembuh. Tanpa memperhatikan bentuk ujian tersebut, Allah ternyata telah menjanjikan kenikmatan abadi tanpa akhir bagi mereka yang memiliki hubungan baik dengan-Nya dan senantiasa menjalankan ketaatan kepada-Nya.

Allah berfirman, "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu. Dan pati kamu akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati orang - orang yang diberi kitab sebelum kamu dan orang - orang yang musyrik. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (patut) diutamakan." (Ali - 'Imran : 185-186)
komentar | | Read More...

Dunia adalah Negeri Ujian

Penulis : ZHANtech | Senin, 14 April 2014

Santri-Indigo.Com - Allah menciptakan manusia dan seluruh makhluk lain untuk suatu tujuan yang Allah jelaskan dalam AL-Qur'an, kitab yang diturunkan sebagai petunjuk untuk seluruh manusia :

"Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu main - main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" (Al-Mukminun : 15)
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (Adz-Dzariyat : 56)

Untuk itu, manusia diciptakan tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah. Umur manusia ditentukan kurang lebih 60 atau 70 tahun. Umur manusia sangat mirip dengan jam pasir, karena usia sedikit demi sedikit lenyap tanpa henti. Setiap manusia tinggal di alam ini sesuai dengan batas waktu yang tidak diketahui siapa pun selain Allah. Ketentuan ini berlaku sesuai takdir yang telah ditetapkan Allah. Siapa pun tidak bisa mengubah ketentuan itu. Segala sesuatu akan berujung pada batas akhir yang telah dipastikan saat ajalnya tiba. "Padahal kehidupan dunia hanyalah kesenangan (yang sedikit) dibanding kehidupan akhirat." (Ar-Ra'd :26)

Segala sesuatu di dunia ini berkembang lalu setelah itu layu, dan dengan cepat mengarah menuju kefanaan. Waktu penuh berisi kematian makhluk hidup dan segala sesuatu. Maka siapa pun yang berpegangan pada kehidupan fana ini, mereka pasti menuju kerugian nyata.

Seorang pemikir besar islam, Badiuzzaman An-Nursi, sering kali mengingatkan kepada para pembacanya tentang makna fana yang menjadi ciri khas kehidupan dunia ini, dan mendorong untuk mencurahkan segenap kemampuan untuk meraih kemuliaan kehidupan hakiki di akhirat. Ia menuturkan, "Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah rumah singgah bagi tamu, dan manusia singgah disana untuk waktu yang relatif singkat dengan membawa beban berat berbagai kewajian. Untuk itu, sibukkanlah diri dengan menyiapkan hal - hal yang diperlukan sebagai persiapan menuju kehidupan abadi."

Badiuzzaman menyamakan kehidupan dunia yang hanya sesaat ini seperti kunjungan sementara. Pada bagian lain, Badiuzzaman menuturkan, "Wahai ruhku yang bimbang, wahai temanku, sadarlah. Jangan kau hambur - hamburkan inti kehidupan dan kemampuanmu untuk menuruti hawa nafsu ragawi dalam kehidupan fana ini, karena hal itu bak binatang atau lebih rendah tingkatannya. Anggaplah anda 50 kali lebih kuat dari binatang, toh anda akan terjun bebas ke bawah 50 tingkatan lebih rendah dari derajat binatang.

Seperti yang disampaikan An-Nursi, manusia diberi sifat - sifat luar biasa seperti kecerdasan, nurani, dan pemahaman yang baik bukanlah bertujuan untuk menuruti syahwat sesaat dalam kehidupan yang sangat jelas lemah ini. Tetapi, dimaksudkan untuk meraih indahnya kehidupan abadi. Melalui inti ini saja, manusia bisa menjalani ujian kehidupan dunia.

Manusia diuji sesuai respon terhadap segala kejadian yang dialami dalam kehidupan dunia dan apa pun yang mereka lakukan dalam lingkup nilai - nilai akhlak. Jelas sekali, siapa pun tidak cukup hanya mengatakan "Aku Mukmin." Kata - kata ini harus dibuktikan dalam ucapan dan tindakan. Pada hari kiamat kelak, akan terlihat jelas apa saja yang mereka kerjakan, baik berkenaan dengan urusan pribadi maupun umat. Laporan amal perbuatan akan disampaikan pada mereka, hingga mereka pun tidak dizalimi sedikit pun. Inilah ketentuan yang selamanya berlaku. AL-Qur'an menuturkan, "Dan mereka tidak dianiaya sedikit pun." (An-Nisa : 49).

Mereka yang timbangan baiknya berat akan diberi balasan kenikmatan surga abadi. Sementara mereka yang berkawan dengan setan dan berlaku zalim, maka neraka jahanam tak terelakkan lagi menjadi tempat kembalinya dan mereka kekal selama - lamanya disana.

Kehidupan dunia ini Allah ciptakan tidak lain hanya sebagai ujian dan pembersihan. Allah berfirman, "Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baikanaknya." (Al-Mulk : 2)
komentar | | Read More...

Hukum Menerima Uang dari Caleg

Penulis : ZHANtech | Senin, 24 Maret 2014

Santri-Indigo.Com - Memberikan uang sogok pada rakyat agar mereka mau memberikan suara, itulah Kelakuan jelek sebagian caleg menjelang Pemilu. Padahal sebenarnya mereka itulah orang yang tidak layak menjadi wakil rakyat. Kalau memang layak, seharusnya mereka memberikan bukti bahwa mereka memang pantas jadi wakil rakyat, tidak perlu dengan sogok - menyogok. Sebagian orang pun bertanya tentang uang sogok ini, apa boleh dimanfaatkan? Karena sebagian dari mereka akan diberi 20 ribu rupiah jika mau menuruti kemauan caleg tersebut untuk memberikan tanda tangan pada secarik kertas yang berisi perjanjian bahwa mereka akan memberikan suara pada caleg tersebut saat pemilu nanti. Ada pula yang melakukan serangan fajar, memberikan uang di pagi buta saat menjelang pemungutan suara.

Ingatlah bahwa uang sogok, suap atau risywah adalah uang yang haram. Uang tersebut diharamkan bagi yang mereka yang memberi maupun mereka yang menerima, bahkan termasuk pula yang menjadi perantara.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الرَّاشِىَ وَالْمُرْتَشِىَ.

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melaknat orang yang memberi suap dan yang menerima suap”. (HR. Abu Daud no. 3580, Tirmidzi no. 1337, Ibnu Majah no. 2313. Kata Syaikh Al Albani hadits ini shahih). Dalam riwayat yang lain Nabi melaknat al Ra-isy (الرَّائِشَ) yaitu penghubung antara penyuap dan yang disuap (HR. Ahmad 5/279). Meski hadits ini lemah namun maknanya benar. Orang yang menjadi penghubung antara penyuap dan yang disuap berarti membantu orang untuk berbuat dosa dan ini adalah suatu yang terlarang. Hadits di atas menunjukkan bahwa suap termasuk dosa besar, karena ancamannya adalah laknat. Yaitu terjauhkan dari rahmat Allah. Bahkan sogok itu haram berdasarkan ijma’ (kesepakatan ulama).

Yang dimaksud risywah atau uang sogok dikatakan oleh Ibnul ‘Arobi,

كُلّ مَال دُفِعَ لِيَبْتَاعَ بِهِ مِنْ ذِي جَاهُ عَوْنًا عَلَى مَا لَا يَحِلُّ

“Segala sesuatu yang diserahkan untuk membayar orang yang punya kedudukan supaya menolong dalam hal yang tidak halal.”

Dalam hadits disebutkan istilah rosyi, yang dimaksudkan adalah orang yang menyerahkan uang sogok. Sedangkan murtasyi adalah yang menerimanya. Adapun perantaranya disebut dengan ro-is.
Sebagaimana disebutkan dalam kitab ‘Aunul Ma’bud, risywah adalah sesuatu yang diserahkan untuk menggagalkan yang benar atau untuk melegalkan yang batil. Adapun jika yang diserahkan bertujuan untuk mengantarkan pada kebenaran atau untuk menolak tidankan zhalim, maka tidaklah masalah.

Bagaimana hukum menerima uang sogok?

Dalam fatwa Al Muntaqo, Syaikh Sholeh Al Fauzan mengenai hukum menerima uang sogok, beliau berkata, “Mengambil uang sogok termasuk penghasilan yang haram, keharaman yang paling keras dan penghasilan yang paling jelek.”

Mereka yang memberi uang sogok seperti ini hakekatnya adalah orang-orang yang tamak dan gila pada kekuasaan. Saat sudah memegang tampuk kekuasaan, mereka cuma ingin harta sogoknya kembali, sehingga korupsi dan pencurian uang rakyat yang terjadi. Orang yang tamak pada kekuasaan ini dicela oleh Rasul dan akan menyesal pada hari kiamat.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإمَارَةِ ، وَسَتَكونُ نَدَامَةً يَوْمَ القِيَامَة

“Nanti engkau akan begitu tamak pada kekuasaan. Namun kelak di hari kiamat, engkau akan benar-benar menyesal” (HR. Bukhari no. 7148).
Demikian pula perhatikanlah nasehat Rasul pada Abu Dzarr. Dari Abu Dzarr, ia berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak memberiku kekuasaan?” Lalu beliau memegang pundakku dengan tangannya, kemudian bersabda,

يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْىٌ وَنَدَامَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ فِيهَا

“Wahai Abu Dzarr, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah. Dan kekuasaan itu adalah amanah, dan kekuasaan tersebut pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mendapatkan kekuasaan tersebut dengan haknya dan melaksanakan kewajibannya pada kekuasaannya itu.” (HR. Muslim no. 1825).
Ibnu Hajar berkata, “Siapa yang mencari kekuasaan dengan begitu tamaknya, maka ia tidak ditolong oleh Allah.” (Fathul Bari, 13: 124)
Berlaku jujurlah dan bertakwalah pada Allah. Hanya Allah yang memberi taufik.

#Review #Pemilu2014
#Sumber : http://muslim.or.id/manhaj/sogok-warga-agar-dapat-suara-dalam-pemilu.html
komentar (3) | | Read More...

Air Mata Lelaki itu Mahal

Penulis : ZHANtech | Sabtu, 08 Maret 2014

Santri-Indigo.Com - Lelaki memang tampak tegar. Tidak pernah cengeng. Sejak kecil mereka di didik untuk tidak mudah menangis. Saat dia belajar jalan dan terjatuh, sang ibu akan mendiamkan."Gapapa, Nak!" Saat dia belajar naik sepeda dan jatuh sampai berdarah, sang ibu juga akan tetap bilang, "Jangan nangis, kamu itu cowok."

Saat kamu sudah SMA kamu menghadapi masalah berat, sang ayah akan bilang,"Cowok ga boleh nangis, kayak cewek aja kamu."

Begitu seterusnya, seolah olah amazing banget kalau bisa lihat cowok menangis. Karena kegiatan menangis sudah terpatri milik cewek. Karena menagis identik dengan cengeng dan lainnya.

Sebenarnya dalam islam, sah - sah saja cowok menangis. Hanya saja perlu dilihat dia menangis karena apa. Lalu gaya nangisnya juga seperti apa. Kalau cowok menangis karena dosa dosa yang setinggi langit dan seluas samudra, maka boleh saja dia menangis. Nangis setelah sholat membasahi sajadah, atau nangis saat keinget dosa yang numpuk, ga ada masalah dan boleh boleh saja.

Lalu lihat juga gaya dia menangis. Kalau gayanya meraung - raung kayak orang kesetanan, jelas tidak boleh. Makanya tidak boleh meratapi saudara yang sudah meninggal. Kita meraung - raung di kuburan, wah itu jelas tidak boleh.

Makanya air mata bagi lelaki sangatlah mahal kalau urusan cinta, kerjaan, masalah hidup atau ujian. Tapi kalo untuk urusan dosa, air mata lelaki murah, boleh tercucur kapan saja sebagai bentuk penyesalan hidupnya.

Menangisi sebagai bentuk penyesalan dan tidak akan mengulanginya lagi. Kemudian bekerja dan beramal kembali seperti sedia kala. Tetap optimis dan tetap melangkah dalam amal sholih. Tangisan akanmenjadi saksi kelak di akhirat tentang penyesalan dan taubat kita.
komentar (3) | | Read More...

Hati - Hati Keliru Memahami Makna Qurban

Penulis : ZHANtech | Rabu, 16 Oktober 2013

Pernahkah kalian berfikir makna Qurban yang sebenarnya?? Qurban adalah asal kata qaraba, yaqrabu, qurban wa qurbanan wa qirbanan, yang artinya dekat. Makna secara istilah, qurban yaitu mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala. Sementara, kata udhiyyah yang merupakan istilah lain dari qurban artinya hewan sembelihan pada waktu dhuha.

Dengan kata lain, qurban / udhiyyah bisa juga diartikan sebagai prosesi ibadah penyembelihan hewan di waktu dhuha yang dilakukan pada hari raya Idul Adha (10 Dzulhijjah) dan hari Tasyriq (11 - 13 Dzulhijjah) dengan tujuan untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah Ta'ala, atau secara singkatnya adalah sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, dan menjalankan perintah Allah.

Jika kita mengacu pada pengertian tersebut diatas, maka berqurban dalam rangka mencari popularitas, ingin dipuji manusia, atau niatan yang lain selain taqarrub ilallah, bisa dipastikan tidak akan sampai kepada Allah. Makna qurban menjadi tidak terasa di hati orang tersebut.

  • Qurban yang diterima hanya dari orang yang bertakwa
Makna qurban dapat kita hayati dari ritual qurban yang dilakukan manusia pertama kalinya dalam sejarah, yakni qurban yang dilakukan oleh Habil dan Qabil (Putra Nabi Adam). Keduanya melakukan qurban sebagai jalan keluar dari perselisihan memperebutkan wanita.

Mereka sepakat, barangsiapa yang qurbannya diterima Allah Ta'ala. dia-lah yang berhak menikahi sang wanita. Qabil berqurban dari hasil kebunnya, sementara Habil berqurban dari hasil ternak. Dan, ternyata akhirnya Allah menerima qurbannya Habil. Cerita dari Habil dan Qabil ini juga menyimpan makna qurban yang bisa dijadikan pelajaran. Penjelasannya dapat kita lihat pada surat dalam Al-Quran berikut ini:

"Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil)".(QS. Al-Maidah : 27)

Apa pelajaran yang dapat kita ambil dari qurban kedua anak Adam tersebut? Makna qurban apa yang tersimpan dalam cerita Habil dan Qabil? Hal itu dijelaskan dalam ayat lanjutannya:

Ia berkata (Qabil), "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil, "Sesungguhnya, Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertakwa."(QS. Al Maidah : 27)

Ya, hanya qurban dari orang-orang yang bertakwa yang diterima Allah Ta'ala, dalam hal ini Habil. Karena, sebagaimana yang tertulis dalam sejarah, Habil telah mengurbankan harta terbaiknya, yaitu seekor domba yang sehat dan gemuk, sebagai cerminan ketakwaannya, sementara Qabil melakukan sebaliknya.

  •  Qurban bukti ketundukan kepada Allah Ta'ala
Makna qurban yang selanjutnya adalah sebagai bukti dari ketundukan seorang hamba terhadap perintah Sang Pencipta, apa pun dan bagaimana pun beratnya perintah-Nya itu.

"Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)". (QS. Al-Hajj : 34)

Makna qurban ini semakin jelas tergambar dalam kisah Nabi Ibrahim. yang tunduk terhadap hukum Allah yang memerintahkannya untuk menyembelih anaknya tercinta, Ismail.

Maka, tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab, "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan, Kami panggillah dia, "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya, ini benar-benar suatu ujian yang nyata, dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (QS. As-Shaaffaat : 102-107)

Rasulullah pernah ditanya oleh salah seorang sahabatnya saat beliau menyembelih qurban, Untuk apa sembelihan ini? Beliau menjawab, Ini sunah (tradisi) ayah kalian, Nabi Ibrahim as. Lalu, sahabat bertanya, Apa manfaatnya bagi kami? Beliau menjawab, Setiap rambut qurban itu membawa kebaikan. Sahabat bertanya lagi, Apakah kulitnya? Beliau menjawab, Setiap rambut dari kulit itu menjadi kebaikan. (HR. Ahmad dari Ibnu Majah dan Tirmidzi dari Zaid bin Arqam)

Pada zaman Nabi Muhammad Saw, syariat qurban disempurnakan tata caranya, termasuk esensinya, bahwa qurban dilakukan sebagai bentuk rasa syukur seorang hamba atas limpahan nikmat dari Allah Ta'ala. Makna qurban tersebut dapat dilihat pada surat berikut:

"Sesungguhnya, Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka, dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah. Sesungguhnya, orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus". (QS. Al-Kautsar : 1-3)
Dengan demikian, seperti yang telah dipaparkan sejak awal hingga akhir, Allah tidak membutuhkan daging qurban kita, sedikit pun. Tapi, yang dilihat Allah hanyalah satu, ketakwaan kita yang hakiki yang ada pada diri kita.

"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik". (QS. Al-Hajj : 37)
komentar | | Read More...

Apakah Sholat Tarawih Wajib dan Sholat Ashar Sunnah?

Penulis : ZHANtech | Sabtu, 27 Juli 2013

Ada beberapa fenomena aneh tapi nyata di bulan Ramadhan ini, diantaranya adalah dua kondisi yang begitu mencolok perbedaannya di bulan Ramadhan ini.

Apakah itu?

Yaitu manakala anda mencermati keadaan masjid di malam hari dengan keadaan masjid di siang hari. Apa yang ada di masjid di siang hari dan apa yang ada di masjid di malam hari.

Coba anda cermati di malam 1 Ramadhan di masjid - masjid kaum muslimin. Apa yang terjadi? Masjid - masjid kaum muslimin di malam satu ramadhan menggludak, begitu banyak orang yang pergi ke masjid untuk menunaikan sholat isya yang dilanjutkan dengan sholat tarawih. Dan ini tentunya adalah fenomena yang menggembirakan, dimana kaum muslimin di malam malam Ramadhan mereka rajin untuk pergi ke masjid menunaikan sholat tarawih.

Namun yang jadi masalah adalah perhatikan kondisi masjid yang sama keesokan harinya di siang hari tanggal 1 Ramadhan. Coba bandingkan keadaan jama'ah di malam 1 Ramadhan dengan di siang hari tanggal 1 Ramadhan. Apa yang terjadi? Lihat bagaimana jumlah jama'ah manakala mereka menunaikan sholat dzuhur atau sholat ashar. Lihat,.. Apakah jama'ahnya menggludak atau justru sangat minim bahkan di sebagian masjid kosong? Sehingga sampai sampai ada sebagian masjid yang melakukan pekerjaan borongan. Apa Maksudnya? Maksudnya dia ya muadzin, dia yang iqomah, dia yang imam, dia pula yang ma'mum. syukur - syukur kalo misalnya suatu saat dia menjadi tim kesebelasan alias cuma 2 orang saja, imam dan ma'mum saja. Itu adalah kondisi masjid disiang hari di bulan Ramadhan.

Apakah itu salah? Jelas salah, yang salah bukan kondisi ketika orang menggludak di sholat tarawih bukan, tapi yang jadi permasalahan adalah manakala banyak diantara kaum muslimin kemudian mereka memiliki skala prioritas yang tidak benar. Apakah sholat tarawih merupakan sholat wajib, sehingga kaum muslimin begitu mementingkan sholat tarawih? dan sebaliknya apakah sholat ashar adalah merupakan sholat yang hukumnya sunnah sehingga kaum muslimin kurang mempedulikannya? Apakah seperti itu? Kalau semisal kita tanya mereka, "Ya endalah, sholat tarawih hukumnya sunnah, sholat ashar hukumnya wajib". Itu secara lisan, tapi secara praktek di kehidupan mereka ternyata berbeda. Seharusnya kaum muslimin mempunyai skala prioritas di dalam ibadah. Ada sesuatu yang penting dan ada sesuatu yang lebih penting. Antara yang wajib dan sunnah lebih penting mana? Jelas lebih penting yang wajib.

Makanya dalam sebuah hadits kudsi diriwayatkan oleh Imam Muslim :

Allah Ta'ala berfirman "Tidak ada amalan yang dilakukan oleh bani adam untuk mendekatkan dirinya kepadaku yang lebih aku sukai di bandingkan amalan yang aku wajibkan untuk dia"

Jadi yang wajib itu lebih dicintai Allah Ta'ala, karena itulah yang lebih penting. Ketika kami menyapaikan ini, maksudnya bukan kami menggembosi kaum muslimin untuk tidak sholat tarawih, tetapi maksud kami bagaimana kau muslimin bisa meramaikan sholat 5 waktu mereka, bisa meramaikan masjid mereka untuk melaksanakan sholat 5 waktu sebagaimana mereka bisa meramaikan sholat tarawih dengan berjama'ah di masjid.

Alangkah indahnya ketika kita melihat di masjid - masjid kaum muslimin ketika sholat dzuhur dan waktu sholat ashar kita lihat jama'ahnya menggludak seperti menggludaknya sholat tarawih seperti yang kita lihat selama ini. Wallahu A'lam bishowab.
komentar (1) | | Read More...

Benarkah Nuzulul Qur'an tanggal 17 Ramadhan ?

Penulis : ZHANtech | Kamis, 25 Juli 2013

Penurunan Al-Quran (inzalu-l Quran) dijelaskan oleh al-Quran:

1. Di Bulan Ramadhan

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ


Al- Baqarah , 2:185
"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang padanya diturunkan (permulaan) Alqur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)".

2. Di Malam hari yang penuh berkah

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ


Ad-Dukhan, 44:3
"Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan".



3. Di Malam Laylatul Qadar

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ


Al-Qodr, 97:1"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan".

Menurut Jumhur Ulama, penurunan yang dimaksud adalah penurunan (inzal) al-Quran secara keseluruhan dari Lawhil Mahfudz ke Langit Dunia, Dari langit dunia ini al-Quran diturunkan beberapa kalai (tanzil) secara berangsur-angsur memakan waktu 22 th, 2 bln 22 hari (23 tahun), 13 tahun sebelum hijrah (ayat/surat Makiyah), dan 10 tahun setelah hijrah (ayat/surat Madaniyah).

Disebut "Laylatu-l Qadar, karena sebagai yang dijelaskan dalam al-Dukhan, 44: 4:

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ


Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,
Di Surat Al-Anfal, 8: 41 Allah berfirman:

وَاعْلَمُواْ أَنَّمَا غَنِمْتُم مِّن شَيْءٍ فَأَنَّ لِلّهِ خُمُسَهُ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ إِن كُنتُمْ آمَنتُمْ بِاللّهِ وَمَا أَنزَلْنَا عَلَى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ وَاللّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ


"Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul,kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan "kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan".

kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), yakni al-Quran pada hari Furqan, hari bertemunya 2 pasukan yakni peristiwa perang Badar. Diketahui dalam sejarah perang Badar itu terjadi tanggal 17 Ramadhan.

Maka jumhur ulama menetapkanlah hari/tanggal turun al-Quran itu tanggal 17 Ramadhan....
Wallohu `alam.

Ust.Drs.H.Dadang Syaripuddin,MA
(Wakil PWM Jawa Barat, bidang Tarjih dan Tajdid)
komentar | | Read More...

Pulang ke Kampung Akherat

Penulis : Ety Tresnowati | Senin, 22 Juli 2013

Alkisah seorang perantau, katakanlah ia adalah seorang pekerja yang bertahun tahun tidak pernah pulang ke kampung halamannya.

Tiba tiba ditanya oleh majikannya : "Mba, sampean betah kerja disini?"
Kemudian pekerja itu menjawab dengan malu malu : "Betah pak, ada apa yah pak?"
Majikan : "Ga papa mba, sampean kan udah lama kerja disini, dah hampir 5 tahun ga pulang. Apa sampean ga ingin pulang?"
Pekerja : "Ingin pak" jawabnya dengan mata berkaca - kaca membayangkan kampung halamannya.
Majikan : "Gini mba, sampean tahun ini boleh pulang, dan ga perlu khawatir, tiket sudah saya siapkan. Mba ga usah pikir pikir lagi, kumpulin bekal aja karena 1 minggu lagi mba bisa pulang kampung."

Terbayang betapa bahagianya si pekerja tadi sebab 1 minggu lagi ia bisa bertemu dengan ayah, ibu serta sanak keluarganya. Terbayang menyusuri jalanan kampung dengan kegembiraan yang sedari 5 tahun yang lalu ia tinggalkan.

Namun pertanyaannya, samakah perasaan kita ketika ditanya oleh Allah dengan pertanyaan yang sama? Suatu ketika Allah akan bertanya pada kita, "Pak-Bu-Mas-Mba sampean kan dah lama tinggal di dunia, Apakah sampean betah? Sudah berapa lama sampean tinggal di dunia?"
Lalu kita menjawab : " Betah, baru 20 tahun."
Allah bertanya lagi : "Sampean kan sudah lama di dunia, sudah sering makan yang enak - enak, dan berjalan kesana kemari, hampir semua kesenangan dunia sudah pernah dirasakan. Apa sampean ga ingin pulang? Sepertinya sudah waktunya sampean istirahat."
Kemudian Allah menjelaskan lagi, "Tenang saja, sampean ga perlu repot repot memikirkan bagaimana cara pulang. Sampean siapkan saja perbekalannya karena 40 hari lagi sampean akan pulang ke kampung akherat."

Pertanyaannya, samakah kegembiraan kita yang ditanya oleh Allah dengan kegembiraan orang pekerja tadi?

Firman Allah Subhanahu wa Ta'aala :

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ

وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ


"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu, barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga maka sungguh dia telah beruntung, kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS. Ali Imran [3]: 185).

Lalu bekal apa yang akan kita pesiapkan untuk pulang kampung? sehingga ketika waktu ajal menjemput kegembiraan kita tidak kalah dengan kegembiraan pekerja yang telah 5 tahun merantau di kota dan kemudian pulang ke kampung halamannya bertemu kembali dengan keluarganya. Wallahu A'lam Bishawab
komentar | | Read More...

Kenali Dirimu, maka Kamu Akan Mengenal Tuhanmu

Penulis : Unknown | Senin, 15 Juli 2013

Kita sering menjumpai burung dikurung di dalam sangkar, andai saja dia dapat berpikir dan berangan-angan, kira-kira apa yang akan dia pikirkan dan dia inginkan? Tentu saja teman-teman akan menjawab dia ingin bebas, atau lebih spesifiknya sebagai wujud bebas itu adalah terbang. Dia terbang sebab dia tahu bahwa dirinya adalah seekor burung. Kalau dia menyangka dirinya tikus, maka dia tidak akan berpikir untuk terbang.

Nah, kita sekarang ini sebenarnya ada dalam kurungan. Kurungan kebodohan, kurungan kemunafikan, kurungan kejumudan, atau kurungan-kurungan lainnya. Lalu apa cita-citamu? Bebas dari kurungan. Wujudnya bebas apa?

Mungkin dari teman-teman ada yang berpikir bahwa wujud bebasnya adalah menjadi diri sendiri. Ya, diri sendiri. Tetapi siapakah dirimu?

Manusia

Manusia itu apa? Karena ada definisi sosiologi, definisi budaya, definisi agama, dan definisi-definisi yang lain.

Bangsa Indonesia tidak dapat menentukan cita-citanya dan wujud bebasnya, karena bangsa Indonesia tidak tahu siapa dirinya. Saya tulis demikian karena cita-cita bangsa Indonesia cuma satu, duit lebih banyak. Apa itu sopir, politisi, tukang ojek payung, intelektual, maupun pejabat. Jadi saya kira saat ini manusia telah menjadi bahan tertawaan habis-habisan dari semua konstelasi makhluk Allah. Tetapi dari semua manusia itu jangan-jangan kita yang menjadi bahan tertawaan habis-habisan.

Kalau yang dimaksud bangsa Indonesia itu adalah bangsa yang lahir 17 Agustus 1945 maka begitu singkat sejarah kita. Kalau Indonesia lahir 17 Agustus 1945 maka siapa yang dijajah Jepang, Belanda, dan Portugis? Apakah itu bangsa Indonesia? tanggal 17 Agustus 2013 besok kita akan merayakan HUT RI ke 68 itu artinya memang benar bahwa Indonesia lahir pada 17 Agustus 1945. Kalau demikian maka yang dijajah itu bukan Indonesia. Lalu siapa yang dijajah dan akhirnya melahirkan Indonesia?

Kita sepakati saja bahwa yang dijajah dan yang melahirkan Indonesia adalah nusantara. Pertanyaan berikutnya adalah kapan nusantara lahir? Sejarah kita hanya mampu bicara mulai dari kerajaan kutai abad ke 5. Mundur satu langkah dari itu kita sudah tidak ada cerita. Jika orang Arab nenek moyangnya Ismail bin Ibrahim, orang-orang Israil nenek moyangnya Ishaq bin Ibrahim, lalu siapa nenek moyang bangsa Indonesia. Tentu jawabannya bukan seorang pelaut. Saya masih mencari antara Yafet, Sam, atau Ham bin Nuh. Jangan kaget kalau kemudian ternyata bangsa Indonesia itu bangsa yang tua, dan lebih tua dari bangsa-bangsa lain di bumi ini. Parameter ketuaan suatu bangsa adalah budaya dan bahasa. Dari itu teman-teman dapat kembangkan sendiri.

Saya persingkat saja. Manusia adalah makhluk yang paling muda dari semua mahluk ciptaan Allah. Setelah penciptaan alam semesta Allah telah menciptakan malaikat dan Azazil, yang menjadi nenek moyang iblis, jauh sebelum penciptaan Adam khalifatullah. Kemudian Adam diperdaya oleh iblis yang cemburu kepada Adam sehinnga Adam di turunkan ke bumi. Adam menjadi khalifatullah fil arth. Iblis dilaknat oleh Allah karena tidak mau bersujud pada Adam tetapi Allah memberikan penangguhan sampai hari kiamat. Karena iblis sudah dinyatakan sesat oleh Allah maka iblis berjanji akan menyesatkan anak cucu Adam (al hijr:39). Sejak waktu itulah perang dimulai. Awalnya dibentuklah the serpent brotherhood (TSB), dan kemudian organisasi-organisasi turunan untuk menyesatkan manusia. Demi keamanan bersama tidak akan saya tulis disini. Tetapi yang perlu dicatat bahwa perang belum berakhir. Bahkan saat ini umat Islam sedang difitnah habis-habisan sampai-sampai umat Islam tidak sadar bahwa itu adalah fitnah.

Kembali ke awal, jadi apa wujud terbangmu?
komentar | | Read More...

Kenapa Bukan Ayah Saja yang Meninggal?

Penulis : ZHANtech | Jumat, 12 Juli 2013

Ia masih seorang bocah yang duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar. Suatu kali ustadz di kelasnya memotivasi para siswa untuk menjaga sholat berjama'ah subuh. Bagi si anak, sholat subuh sulit dilakukan secara berjama'ah di masjid. Namun kali ini si bocah bertekat menjalankan sholat subuh di masjid. Lalu dengan cara bagaimana anak itu memulainya?

Dibangunkan Ayah? Ibu? Dengan alarm? Bukan!

Sang anak nekat tak tidur semalaman lantaran takut bagun kesiangan. Semalaman anak begadang, hingga tatkala adzan subuh berkumandang, ia pun ingin segera keluar menuju masjid.

Tapi, tatkala ia membuka pintu rumah suasana sangat gelap, pekat, sunyi, senyap. Membuat nyalinya ciut. Tahukah anda, apa yang ia lakukan kemudian? Tatkala itu sang bocah mendengar langkah kaki kecil dan pelan, dengan diiringi suara tongkat menghentak tanah. Ya, ada kakek - kakek berjalan dengan tongkatnya. Sang bocah yakin, kakek itu sedang berjalan menju masjid,

Maka ia mengikuti di belakangnya, tanpa sepengetahuan sang kakek. Begitupula cara ia pulang dari masjid.

Bocah itu menjadikan itu sebagai rutinitas keseharian, begadang malam lalu sholat subuh mengikuti kakek - kakek. Dan ia tidur setelah sholat subuh hingga menjelang sekolah.Orang tuanya tidak ada yang tau, selain si bocah lebih banyak tidur di siang hari daripada bermain.Dan ini dilakukan agar bisa begadang malam.

Hingga suatu kali.

Terdengar kabar olehnya, kakek yang biasa diikuti olehnya itu meninggal. Sontak si bocah menangis sesegukan. Sang ayah heran dan bertanya, "Mengapa kamu menangis, nak? Ia bukan kakekmu, bukan siapa - siapa kamu!"

Saat si ayah mengorek sebabnya, sang bocah sembari menangis spontan berkata, "Kenapa bukan ayah saja yang meninggal?"

"A'udzu billah, kenapa kamu berbicara seperti itu, nak?" kata sang ayah heran.

Si bocah berkata,"Mendingan ayah saja yang meninggal, karena ayah tidak pernah membangunkan aku sholat subuh, tidak pernah mengajakku ke masjid. Sementara kakek itu setiap pagi saya bisa berjalan di belakangnya untuk sholat berjama'ah sholat subuh."

ALLAHU AKBAR! menjadi kelu lidah ayah hingga tak kuasa menahan tangisnya.

Kata kata anak tersebut mampu merubah sikap dan pandangan sang ayah, hingga membuat sang ayah sadar sebagai penddik bagi anaknya, dan lebih dari itu sebagai hamba dari Pencipta-Nya yang semestinya taat menjalankan perintah-Nya. Sang ayah rajin sholat berjama'ah karena dakwah dari anaknya.
komentar | | Read More...

Tukar Link



Copy Paste - Copyright by SIC
<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;">
<a href="http://www.santri-indigo.com/" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4X8slxtycBYdn18VtsohXTzJQmwJhkNtRDtbbJv7tnt5dqou5BIn6OIdm1e3Ql3YM9ZSckUHsSXwpPacPxnw067WXUa7S3TWTDVRYOVwdV5Jwi8aLdKMMMZrX3WtykfUBqAwhWBc3DtA/s150/SI.png" /></a></div>

Bagi yang sudah pasang silahkan tinggalkan komentar

Zona Aplikasi

Kolom Religi

Zona Blogger

Seputar Cilacap

Seni Musik

Zona Linuxer

Kegiatan

Otak - Atik

Cerita Pendek