Santri Indigo adalah Komunitas Santri Berbudaya Teknologi yang merupakan kerjasama program CSR PT Telkom Indonesia Tbk dengan HU Republika.
Twitter Facebook Feedburner Google +1 youtube
www.santri-indigo.com
Selamat Datang di Portal Santri Indigo Cilacap
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Menulis Bagi Para Pengajar

Penulis : ZHANtech | Jumat, 07 Maret 2014

Santri-Indigo.Com - Penting? Dosen dan pengajar harus aktiv menulis?
Kita sudah tidak perlu lagi berdebat ihwal penting tidaknya menulis. Sudahlah! Pembahasan itu telah berlalu. Dan adalah sebuah keputusan mutlak untuk berkata, "MENULIS itu PENTING!"

Bagi pengajar, menulis adalah langkah untuk meningkatkan karir pribadi Anda. Anda (pengajar) yang setiap kali harus bergelut dengan dunia pengetahuan, tentu sangat mudah memperoleh bahan guna penunjang sebuah tulisan. Dan bila kita berani sadar dalam berpikir, apa yang akan Anda wariskan bagi generasi selanjutnya ketika kelak anda telah tiada?

Anda yang sudah mendedikasikan hidup untuk mengajar, (sekalipun sudah membekali warisan berupa pengetahuan) akan tetapi alangkah baiknya bila warisan tersebut bisa kita wujudkan dalam sebuah benda. Dalam sebuah dokumentasi yang kemudian bisa seseorang nikmati dan iya akan memperoleh manfaat dari karya tersebut.

Bisa Anda membayangkan bagaimana asyiknya bercerita sambil membawa foto lokasi cerita tersebut? Tentu hal ini bisa menggambarkan peristiwa yang Anda ceritakan, ketimbang Anda hanya bercerita dan bukti cerita tersebut tidak ada dalam genggaman Anda.

Dengan begitu, upaya mendidik anak Bangsa bisa berkesinambungan tanpa kehilangan warisan sejarah. Ingat, eksistensi sejarah terbangun lewat (salah satunya) sebuah buku.
komentar (2) | | Read More...

Mengembangkan Interlegos Part 2

Penulis : ZHANtech | Jumat, 28 Februari 2014

Besar manakah modal teori dengan modal motivasi dalam kepenulisan? Manakah yang harus kita kedepankan?

Dua hal diatas, mempunyai kesamaan guna memperbaiki kwalitas sebuah tulisan. Siapa yang hendak menulis, maka terlebih dahulu harus meminum dua suplemen itu sekaligus.

Namun, seorang juga harus bisa menempatkan dimana dia harus berpikir mengenai teori, dan bagaimana dia harus terlebih dahulu melecutkan dirinya untuk bangkit. Dan perbedaan selanjutnya terletak pada ujung tujuan keduanya.

Bila disebutkan keduanya mempunyai goal untuk memperbaiki kwalitas sebuah tulisan, maka kita harus memperinci artikulasi kwalitas itu sendiri.

Teori, lebih merujuk pada kwalitas pembenahan bahasa. Sedang motivasi, lebih bagaimana membuat ungkapan yang menyentuh dan komunikatif.

Kami lebih bersikap mendorong pembaca untuk menulis. Dan biarlah mereka mencintai dunia tulis, maka kesadaran untuk paham dasar teori itu akan muncul dengan sendirinya.

Buatlah api maka asap akan datang itulah moto yang kami genggam.

Guru, dosen, dan pengajar lain umumnya masuk dalam kelompok pertama. Mereka paham mendalam dengan keilmuannya, tapi belum tentu tertarik terjun dalam dunia kepenulisan. 180 ribu dosen, hanya 0,11 persen dosen yang bersedia menjadi peneliti dan penulis. Seolah status remeh, mereka tidak mau menggeluti dunia kepenulisan, tak tersentuh untuk menulis gagasan dan pengetahuan yang mereka peroleh.

Sebagai dosen atau guru, mereka merasa tugasnya hanya mengajar. Mentransfer ilmu kepada para siswa, dan... selesai! Interpretasi mereka mengenai siswa hanya terbatas pada siapa yang sudi masuk sekolah, dan terdaftar sebagai muridnya. Padahal, bukankah diluar sana masih banyak masyarakat yang membutuhkan transfer ilmu guna memperbaiki sastra kehidupan?
komentar | | Read More...

Mengembangkan Interlegos Part 1

Anda bercita - citakan sebagai penulis? Jadilah interlegos sejati!

Apa interlegos? interlegos merupakan asal dari kata intelektual. Menurut penjabarannya interlegos adalah sosok intelek yang memiliki tiga bangunan kuat yang membawahi seseorang yang cerdas.

Tiga bangunan tersebut adalah :
1. Paham dengan mendalam
2. Prihatin dengan sepenuh hati, dan
3. Tergerak ingin memperbaikinya.

Seorang intelektual atau cendikiawan sejati harus mempunyai tiga fondasi pokok tersebut. Bila diantara tiga elemen diatas, Anda hanya bermodalkan satu saja, maka Anda dirasa perlu mengevaluasi status intelektual Anda.

Seorang Kyai (Kyai, bagi saya juga merupakan sosok intelektual) bila hanya memiliki poin pertama saja, (yakni hanya bermodalkan pemahaman Agama saja. Tanpa adanya bentuk solidaritas dan rasa ingin introspeksi diri) maka pantaslah kita sebut munafik. Ia hanya bisa berbicara, dan tak mampu memberikan penteladanan kepada masyarakat.

Nampaknya teori diatas juga dibebankan kepada mereka yang hendak terjun ke dunia kepenulisan.

Paham dengan teori mempunyai kepekaan dan sudi bercermin dalam berkarya, adalah kunci sukses penulis handal.

Coba Anda perhatikan tabel disamping. Di kotak sebelah kanan (teori kognitip) terdapat wilayah kerja kepenulisan dengan "gaya anak sekolah". Mengapa saya membahasnya dengan gaya anak sekolah? Ya, sebab mereka yang bernaung dibawah tempaan sekolah selalu saja bermain - main dengan teori. Dengan subyek, predikat, atau obyek. Namun mereka tidak mempunyai spirit untuk melanjutkan teori tersebut menjadi sebuah karya. itulah yang menjadi sebab mengapa fakultas Sastra sedikit sekali menelurkan para penulis handal.

Dan bila sudah begini, hendak dibawa kemanakah manfaat pembelajaran tersebut?

Sedang pada kotak sebelah kiri (kotak interlegos) terdapat pendekatan Mind Writting yang lebih suka mempersoalkan energi, komitmen dan sebagainya. Kita menomorduakan teori. Bukan karena hal demikian tidak penting, akan tetapi lebih bagaimana mendorong seseorang untuk bertindak.
komentar | | Read More...

Keseimbangan antara Gerak Otak dan Jemari

Penulis : Unknown | Kamis, 27 Februari 2014

Mint Writing adalah dunia praktek yang mengolah mental jiwa Anda untuk menemukan ide-ide segar dari alam maha karya ini

Itulah dunia yang saya bangun.

Tapi.. Mint Writting bukan pelajaran tata bahasa. Meskipun tujuan / goal-nya sama (yaitu menghasilkan tulisan dengan gaya ungkap menarik), namun bukanlah aspek tata bahasanya yang menjadi perhatian utama. Namun aspek dorongan jiwalah yang menjadi point - point yang sanggup menginspirasi dan mendorong Anda untuk membuat karya yang fantastis.

Tolong sediakan beberapa hal dibawah ini sekarang juga :
  1. Dua lembar kertas kosong ukuran folio/kwarto
  2. Pulpen untuk tanda tangan.
  3. Jam/Stop wacth untuk mengukur kecepatan proses Anda.
Dan sebentar lagi Anda akan menguji diri Anda untuk menulis dalam kurun waktu 1 menit.

Tugas Pertama :
  • Pegang pulpen Anda menggunakan tangan kanan Anda. Tatap kertas Anda dan mulailah menggoreskan tanda tangan.
  • Penuhi lembar pertama anda dengan tanda tangan secepat-cepatnya, SEKARANG!
  • Selesai Anda menulis tanda tangan, tengoklah berapa lama Anda menghabiskan waktu untuk menulis tanda tangan dengan tangan kanan anda.
Tugas Kedua :
  • Pegang pulpen Anda menggunakan tangan kiri Anda. Tatap kertas Anda dan mulailah menggoreskan tanda tangan.
  • Penuhi lembar pertama anda dengan tanda tangan secepat-cepatnya, SEKARANG!
  • Selesai?
  • Maka segeralah Anda melihat waktunya. Dan bagaimanakah hasilnya?
Tentu tanda tangan pertama memakan waktu lebih sedikit dibanding dengan tanda tangan kedua.

Begitulah, bahwasanya tangan kanan lebih terampil ketimbang tangan kiri kita. Dan jika Anda merenungkannya sejenak, maka Anda akan menemukan beberapa kejanggalan. Di antara kejanggalan tersebut adalah :
  1. Tangan kiri dan tangan kanan ibarat pasangan suami istri yang kompak. Begitulah fakta semestinya : keduanya saling mengisi satu sama lain. Keduanya memiliki jumlah jemari yang sama. Dengan ukuran panjang dan pendek sama pula. Lantas, faktor apakah yang menyebabkan tangan kiri tak setrampil tangan kanan?
  2. Mengapa bisa terjadi perbedaan itu?
  3. Kalau memang karena takdir, sampai mana takdir ini bisa kita terima sebagai sebuah kewajaran?
  4. Apakah perlu kita mengalih fungsi jari kanan (yang mulanya untuk hal-hal baik) kepada fungsi jari kiri (yang hanya diperuntukkan untuk pekerjaan semacam cebok, ngupil, dan membersihkan kotoran lainnya) ?
Segala sesuatu akan berlaku cepat bila kita terbiasa melakukannya. Menulispun demikian... latih otak Anda untuk memadukan antara ide, dan teori kepenulisan dengan cepat. Hal demikian sangat penting bila Anda menginginkan pribadi yang profesional dalam bidangnya.
komentar (2) | | Read More...

Kunci Sukses Menulis 1 Menit & Fakta Dunia Bahasa Kita

Mengapa sistem sekolah gagal mendidik kita menjadi penulis besar? Mengapa bahasa indonesia menjadi pelajaran yang ditakuti (atau kalau tidak, membosankan) dimata para pelajar? Padahal, Anda tidak akan lulus bila mata pelajaran Bahasa Indonesia Anda dibawah 5,..

Sebuah fenomena mengerikan, dimana Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) yang adalah tempat para mahasiswa berinteraksi dengan literature bahasa, jarang sekali menghasilkan penulis - penulis yang handal. Seolah mereka hanya mempelajari literature bahasa saja, tanpa ada niat untuk menulis literature tersebut, atau menjadikan lebih bermanfaat untuk khalayak. Maka meringislah ranah bahasa kita. Dan lebih tertariklah generasi kita kepada ilmu Matematika, Fisika, Kimia, dll.

Dengan Asumsi mata pelajaran diatas lebih efektif untuk perubahan bangsa, (dengan memenangkannya disetiap event adu edukasi antar Negara), takluklah kita untuk menduakan ilmu Bahasa.

Padahal, bukankah kecerdasan sering tampak lewat tulisan serta gaya bicara seseorang?

Namun ternyata pelajaran Bahasa Indonesia diberlakukan disekolah layaknya anak tiri saja. Bahasa yang substansinya menjunjung nilai afeksi (kasih sayang), justru menjadi ilmu yang tak tersentuh kecintaan para siswa.

Karya sastra dibedah layaknya sapi yang disembelih. Dibedah tanpa niat untuk mengkaji, namun justru menghabisi. Dipreteli dari keutuhannya sebagai sebuah karya yang hidup.

Sastra Indonesia, dewasa ini telah lepas dari pelajaran bahasa indonesia. Keduanya sudah bukan lagi satu kurun mata pelajaran. Dan apa efek negatif dari perihal diatas?

Tak lain adalah semakin menjauhnya sastra dari wacana anak bangsa. Sastra hampir terhapus. Seperti terhapusnya pelajaran Budi Pekerti dari ranah tanah air. Maka lengkaplah sudah wabah dehumanisasi (Ketidakmanusiawian) di negeri ini.

Nampaknya Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) tidak pernah adil dalam menakar keputusannya. Namun untungnya, dengan adanya fenomena diatas, semakin rajinlah para penggiat seni tulis untuk menerbitkan buku guna saling berbagi pengalaman jurnalistik. Sebab pada dasarnya, belajar menulis tak ada bedanya dengan bercermin. Dengan hanya berdiam diri sambil membaca buku, kita bisa berproses dalam kepenulisan. Tanpa memerlukan bantuan guru ataupun mentor. Dengan membaca kita bisa mengoreksi diri sendiri, sekaligus menimbang karya orang lain.

Bercermin adalah melihat "Bayangan Diri". Dan hal ini sangat efektif diterapkan di dunia kepenulisan. Maka rajin-rajinlah membaca ditengah proses menulis Anda. Buku, itulah cermin Anda.

Tetapi cermin tidak akan ada manfaatnya bila dinding kaca penuh dengan noda. Nah, selanjutnya bila Anda sudah mengibaratkan buku-buku panduan menulis sebagai cermin proses kreatif Anda, dan ternyata buku-buku terkadang ditulis dengan kapasitas seadanya, maka kasihan sekali diri Anda. Anda bercermin pada kaca yang kurang efektif.

untuk itu mari kita coba melengkapi kekurangan tersebut. Atau bahkan, menghilangkan noda - noda yang barangkali ada di buku-buku panduan yang sudah Anda baca.

Apa saja peralatan untuk menghilangkan noda - noda tersebut? Berikut ini nama peralatan tersebut :
  1. Gunakan 5W+2H (what, who, why, when, where + how, how much/how many) untuk mengembangkan topik atau tema tulisan.
  2. Jangan perdulikan omongan "otak kritis" Anda.
Dalam menulis, janganlah menyatukan keinginan menulis dengan hasrat untuk mengoreksi. Lakukan satu persatu. Dan sisihkan otak kritis anda. Baru setelah anda selesai menulis, gunakan otak kritis anda untuk mengoreksi.

Sepanjang anda bergelut dengan ide Anda, sisihkan sejenak "otak kritis anda" tersebut. Dialah yang cenderung menjadi predator penganggu. Ada masanya bagi dia untuk mengkritisi tulisan kita. Ada masanya kita mengangurkan otak penting itu.

Konsep ini tidak mempersoalkan apakah anda seorang siswa SD, remaja, mahasiswa atau bahkan jika Anda seorang Guru Besar sekalipun. Ada dilevel mana pun konsep ini diibaratkan burung terbang dialam bebas. Ia bebas mencari sesuatu / apa saja untuk pijakan bertenggernya. Ia bisa hinggap didekat Anda. Kemudain mendendangkan kicauan-kicauan lembutnya. Sehingga pikiran Anda merasa tenang dan bisa menerima segala hal.

Kenyamanan adalah pintu menuju alam flow, alam penuh getaran gelombang alfa yang membuat Anda produktif menulis. Dan dengan 5W+2H akan melatif syaraf kepenulisan kita dari berbagai sudut. Seperti bagaimana "memanipulasi" emosi, komitmen, gairah, kepedulian, panggilan, keprihatinan agar menghasilkan karya tulis dengan 'gaya' ungkapan yang indah,menyentuh, penuh sugesti, memprovokasi, menenengkan sekaligus menggelorakan.
komentar (4) | | Read More...

Cinta Sejati Seorang Ibu Terhadap Anak-Anaknya

Penulis : Unknown | Jumat, 12 Oktober 2012

Wanita itu sudah tua, namun semangat perjuangannya tetap menyala seperti wanita yang masih muda. Setiap tutur kata yang dikeluarkannya selalu menjadi pendorong dan bualan orang disekitarnya. Maklumlah, ia memang seorang penyair dua zaman, maka tidak kurang pula bercakap dalam bentuk syair. Al-Khansa bin Amru, demikianlah nama wanita itu. Dia merupakan wanita yang terkenal cantik dan pandai di kalangan orang Arab.

Dia pernah bersyair mengenang kematian saudaranya yang bernama Sakhr :

"Setiap mega terbit, dia mengingatkan aku pada Sakhr, malang. Aku pula masih teringatkan dia setiap mega hilang dii ufuk barat Kalaulah tidak kerana terlalu ramai orang menangis di sampingku ke atas mayat-mayat mereka, nescaya aku bunuh diriku."

Setelah Khansa memeluk Islam, keberanian dan kepandaiannya bersyair telah digunakan untuk menyemarakkan semangat para pejuang Islam. Ia mempunyai empat orang putera yang kesemuanya diajar ilmu bersyair dna dididik berjuang dengan berani. Kemudian puteranya itu telah diserahkan untuk berjuang demi kemenangan dan kepentingan Islam.

Khansa telah mengajar anaknya sejak kecil lagi agar jangan takut menghadapi peperangan dan cabaran. Pada tahun 14 Hijrah, Khalifah Umar Ibnul Khattab menyediakan satu pasukan tempur untuk menentang Farsi. Semua Islam dari berbagai kabilah telah dikerahkan untuk menuju ke medan perang, maka terkumpullah seramai 41,000 orang tentera. Khansa telah mengerahkan keempat-empat puteranya agar ikut mengangkat senjata dalam perang suci itu.

Khansa sendiri juga ikut ke medan perang dalam kumpulan pasukan wanita yang bertugas merawat dan menaikkan semangat pejuan tentera Islam. Dengarlah nasihat Khansa kepada putera-puteranya yang sebentar lagi akan ke medan perang,

"Wahai anak-anakku! Kamu telah memilih Islam dengan rela hati. Kemudian kamu berhijrah dengan sukarela pula. Demi Allah, yang tiada tuhan selain Dia, sesungguhnya kamu sekalian adalah putera-putera dari seorang lelaki dan seorang wanita. Aku tidak pernah mengkhianati ayahmu, aku tidak pernah memburuk-burukkan saudara-maramu, aku tidak pernah merendahkan keturuna kamu, dan aku tidak pernah mengubah perhubungan kamu. Kamu telah tahu pahala yang disediakan oleh Allah kepada kaum muslimin dalam memerangi kaum kafir itu. Ketahuilah bahawasaya kampung yang kekal itu lebih baik daripada kampung yang binasa."

Kemudian Khansa membacakan satu ayat dari surah Ali Imran yang bermaksud,

"Wahai orang yang beriman! Sabarlah, dan sempurnakanlah kesabaran itu, dan teguhkanlah kedudukan kamu, dan patuhlah kepada Allah, moga-moga menjadi orang yang beruntung."

Putera-putera Khansa tertunduk khusyuk mendengar nasihat bonda yang disayanginya. Seterusnya Khansa berkata,

"Jika kalian bangun esok pagi, insya Allah dalam keadaan selamat, maka keluarlah untuk berperang dengan musuh kamu. Gunakanlah semua pengalamanmu dan mohonlah pertolongan dari Allah. Jika kamu melihat api pertempuran semakin hebat dan kamu dikelilingi oleh api peperangan yang sedang bergejolak, masuklah akmu ke dalamnya. Dan dapatkanlah puncanya ketika terjadi perlagaan pertempurannya, semoga kamu akan berjaya mendapat balasan di kampung yang abadi, dan tempat tinggal yang kekal."

Subuh esoknya semua tentera Islam sudah berada di tikar sembahyang masing-masing untuk mengerjakan perintah Allah iaitu solat Subuh, kemudian berdoa moga-moga Allah memberikan mereka kemenangan atau syurga. Kemudian Saad bin Abu Waqas panglima besar Islam telah memberikan arahan agar bersiap-sedia sebaik sahaja semboyan perang berbunyi. Perang satu lawan satu pun bermula dua hari.

Pada hari ketiga bermulalah pertempuran besar-besaran. 41,000 orang tentera Islam melawan tentera Farsi yang berjumlah 200,000 orang. Pasukan Islam mendapat tentangan hebat, namun mereka tetap yakin akan pertolongan Allah . Putera-putera Khansa maju untuk merebut peluang memasuki syurga. Berkat dorongan dan nasihat dari bondanya, mereka tidak sedikit pun berasa takut. Sambil mengibas-ngibaskan pedang, salah seorang dari mereka bersyair,

"Hai saudara-saudaraku! Ibu tua kita yang banyak pengalaman itu, telah memanggil kita semalam dan membekalkan nasihat. Semua mutiara yang keluar dari mulutnya bernas dan berfaedah. Insya Allah akan kita buktikan sedikit masa lagi."

Kemudian ia maju menetak setiap musuh yang datang. Seterusnya disusul pula oleh anak kedua maju dan menentang setiap musuh yang mencabar. Dengan semangat yang berapi-api ia bersyair,

"Demi Allah! Kami tidak akan melanggar nasihat dari ibu tua kami Nasihatnya wajib ditaati dengan ikhlas dan rela hati Segeralah bertempur, segeralah bertarung dan menggempur mush-musuh bersama-sama Sehingga kau lihat keluarga Kaisar musnah."

Anak Khansa yang ketiga pula segera melompat dengan beraninya dan bersyair,

"Sungguh ibu tua kami kuat keazamannya, tetap tegas tidak goncang Beliau telah menggalakkan kita agar bertindak cekap dan berakal cemerlang Itulah nasihat seorang ibu tua yang mengambil berat terhadap anak-anaknya sendiri Mari! Segera memasuki medan tempur dan segeralah untuk mempertahankan diri Dapatkan kemenangan yang bakal membawakegembiraan di dalam hati Atau tempuhlah kematian yang bakal mewarisi kehidupan yang abadi."

Akhir sekali anak keempat menghunus pedang dan melompat menyusul abang-abangnya. Untuk menaikkan semangatnya ia pun bersyair,

"Bukanlah aku putera Khansa', bukanlah aku anak jantan Dan bukanlah pula kerana 'Amru yang pujiannya sudah lama terkenal Kalau aku tidak membuat tentera asing yang berkelompok-kelompok itu terjunam ke jurang bahay, dan musnah mangsa oleh senjataku."

Bergelutlah keempat-empat putera Khansa dengan tekad bulat untuk mendapatkan syurga diiringi oleh doa munajat bondanya yang berada di garis belakang.

Pertempuran terus hebat. Tentera Islam pada mulanya kebingungan dan kacau kerana pada mulanya tentera Farsi menggunakan tentera bergajah di barisan hadapan, sementara tentera berjalan kaki berlindung di belakang binatang tahan lasak itu. Namun tentera Islam dapat mencederakan gajah-gajah itu dengan memanah mata dan bahagian-bahagian lainnya. Gajah yang cedera itu marah dengan menghempaskan tuan yang menungganginya, memijak-mijak tentera Farsi yang lannya. Kesempatan ini digunakan oleh pihak Islam untuk memusnahkan mereka. Panglima perang bermahkota Farsi dapat dipenggal kepalanya, akhirnya mereka lari lintang-pukang menyeberangi sungai dan dipanah oleh pasukan Islam hingga air sungai menjadi merah. Pasukan Farsi kalah teruk, dari 200,000 tenteranya hanya sebahagian kecil sahaja yang dapat menyelamatkan diri. Umat Islam lega. Kini mereka mengumpul dan mengira tentera Islam yang gugur. Ternyata yang beruntung menemui syahid di medan Kadisia itu berjumlah lebih kurang 7,000 orang. Dan daripada 7,000 orang syuhada itu terbujur empat orang adik-beradik Khansa. Seketika itu juga ramailah tentera Islam yang datang menemui Khansa memberitahukan bahawa keempat-empat anaknya telah menemui syahid. Al-Khansa menerima berita itu dengan tenang, gembira dan hati tidak bergoncang. Al-Khansa terus memuji Allah dengan ucapan,

"Segala puji bagi Allah, yang telah memuliakanku dengan mensyahidkan mereka, dan aku mengahrapkan darii Tuhanku, agar Dia mengumpulkan aku dengan mereka di tempat tinggal yang kekal dengan rahmat-Nya!"

Al-Khansa kembali semula ke Madinah bersama para perajurit yang masih hidup dengan meninggalkan mayat-mayat puteranya di medan pertempuran Kadisia. Dari peristiwa peperanan itu pula wanita penyair ini mendapat gelaran kehormatan 'Ummu syuhada yang ertinya ibu kepada orang-orang yang mati syahid." (Karya Abdussolihin)
komentar | | Read More...

Tersenyumlah Sahabatku

Kala mentari sudah mulai menampakan dirinya, pancaran sinarnya pun mulai terasa hangat. Tubuhku sudah siap untuk menyambut pagi ini, meski bahan makalah masih terbengkalai, laporan karya ilmiah masih terbengkalai, tugas-tugas sekolah pun masih terbengkalai dan sekarang muncul pula masalah yang memusingkan kepala. Meski pikiranku ini tak karuan, aku paksakan kaki ini untuk terus melangkah ke tempat tujuan. Dia datang dengan wajah cemberut, yang duh .... aku tak suka, wajah itu mengingatkan aku pada musuh-musuh teroris yang seakan-akan ingin memangsa negeri ini sampai tak berdaya. Gayanya, senyum sinisnya, bicaranya, diamnya dan aku muak pada semua yang berhubungan dengannya. Iya ... aku tau, dia sahabatku. Sahabat yang selama ini ada disampingku, berjuang dan hidup di tempat yang sama, bahkan tak jarang bermain dan bersenda gurau bersama. Tapi sedihnya kebersamaan yang indah itu harus terenggut begitu saja, kami mengalami perang dingin semenjak kebersamaan itu terekat semakin indah.

Awalnya tidak ada yang salah, kami tetap seperti dulu, akrab dan selalu bersama, dimana-mana berdua, dimana diri ini berada, disitu pun ada dia. Tapi seketika bencana datang menghadang, ombak yang besar menghancurkan sendi-sendi persahabatan kami, dan yang ada kini hanya tinggal puing-puing tak berarti. Aku sedih .. !! Iya ,, aku sangat sedih. Dalam waktu sekejap persahabatan yang indah itu hancur berkeping-keping. Wajah manis berubah menakutkan, tak ada kata yang keluar dari bibirku dan bibirnya. Bibir itu mengatup tanpa komando. Kebahagiaan berubah menjadi kesedihan, kebersamaan berubah menjadi perpisahan. Meski raga bersatu tapi jiwa terpisah. Sering aku bertanya dalam hati, kenapa ini bisa terjadi?? Mengapa kesedihan yang sama harus terulang kembali, mengapa harus ada kesedihan setelah kesedihan itu pergi ?? Tapi sayang, tak ada jawaban ! Pertanyaan hanya tinggal tanya. Aku hanya manusia biasa, aku tetaplah insan lemah yang tak punya daya. Aku tidak bisa mengelak dari bencana itu.

“Nggie, besok giliran kelompok kita untuk presentasi, tadi siang Adit kasih tau aku.”

Aku beranikan diri menghampirinya. Aku harus bisa melawan syetan itu. Aku tidak mau dicap sebagai orang yang suka memutuskan tali silaturrahmi. Seperti sabda Nabi dalam sebuah hadistnya :

“Tidak akan masuk surga orang yang mendiamkan saudaranya selama lebih dari 3 hari.”

Percuma beribadah sepanjang masa kalau akhirnya tetap masuk neraka. Itulah kenapa aku mati-matian ungkapkan sepatah dua patah kata padanya.

Aku tak peduli apakah dia mau dengar atau tidak, ditanggapi atau tidak aku tak peduli. Biar saja, yang yang penting tugas dan kewajibanku selesai. Dia mengangguk sambil bergumam pelan, aku tidak sempat mendengar gumaman itu karena aku terlanjur mengangkat kaki dari sana, aku tak punya daya untuk terus menopang kaki di tempat itu. Tak ada ucapan terima kasih yang aku dengar dari bibirnya. Biarlah ! aku tak butuh ucapan terimakasih itu, yang pasti aku lega karena kewajiban itu berhasil aku tunaikan. Setidaknya aku tidak akan masuk neraka karenanya. Itu saja ! Lambat laun perang dingin itu tercium juga. Teman-teman sekelas pun heran melihat aku yang tidak seperti biasanya. Mereka yang tau aku dan kenal siap aku, mereka yang selalu melihat aku dengan Anggie selalu bersama-sama. Tapi sekarang .. mereka tak melihat lagi hal itu. Mungkin mereka juga sudah tau masalah antara aku dan Anggie.

Aku ditemui Ijal setelah bel pulang sekolah di ruang kelas.

“ Zhie, ada masalah ya sama Anggie ?” tanyanya sambil menarik kursi dan duduk disampingku.

Mau tak mau aku harus jujur. “ Iya, aku juga ngga tau kenapa bisa terjadi ?” ujarku.

“ Awalnya gimana sih kejadiannya ?” Ijal balik Tanya.

“ Aku rasa karena masalah kemarin, dia nanya tapi aku menanggapinya kurang ramah. Seharusnya dia juga ngerti kalau saat itu aku lagi bingung dan panik.”

” Kamu kenapa jawabnya kurang ramah?” protes Ijal.

”Aku kesal aja, dia ngga sopan sama aku. Memang dia anggap aku apa ?”

Aku balik protes. ” Aku tau, semuanya terjadi karena kalian sama-sama panik dan terjadilah salah paham seperti itu. Sekarang kamu lupakan saja masalah itu.kembalilah bersikap biasa, bersahabatlah seperti dulu. Aku ngga suka kamu seperti itu.” Sebenarnya aku yang salah, seharusnya aku bersikap bijaksana, tidak boleh membalas keegoan dengan keegoan yang lain.

”Nah, itu kamu tau sendiri. Sekarang kamu harus seperti dulu lagi, sapa dan bicaralah denganya. Jangan takut dicuekin, itu tantangan mulia untukmu. Ayo Ozhie ...berjuanglah ! sangat mulia orang yang menghubungkan silaturrahmi.” Ijal menasehatiku.

Aku bersyukur punya teman yang perhatian dan suka mengingatkan. Dia memang teman yang baik. ”Makasih ya, Jal. Aku akan berjuang mengembalikan jalinan itu kembali. Mohon doanya ya !!" Aku menggerakan bibir sambil membentuknya menjadi lebih indah, itu senyuman paling manis yang aku ciptakan. Aku berharap senyumman itu bisa meluluhkan hatinya. Tapi ternyata senyum itu hanya tinggal senyum.

Senyuman manisku teracuhkan begtu saja, dia melengah tanpa membalas sedikitpun. Hatiku menyuruh sabar .. sabar .. dan tetap sabarr. Perjuangan belum usai !! Aku tidak boleh menyerah ... Aku harus tetap berjuang sampai senyuman manisku dibalas dengan senyuman yang paling manis.

”Oya ,, Nggie , besok materi presentasi kita tentang wawancara, drama dan pidato.” Lagi-lagi senyumku mengembang sambil menyapanya. Aku bersyukur punya bahan pembicaraan supaya bisa berbicara dengannya. Dia diam saja, lagi-lagi tanpa ucapan terima kasih. Ah ,, sudah biasa. Hari ini Perumahan sepi, sunyi, tak ada suara-suara yang berarti. Mungkin semua orang sibuk dengan aktivtasnya disekolah. Aku tau, di rumah sebelah ada Anggie. Aku juga tau, hanya aku dan Anggie yang tersisa di Perumahan hari ini. Aku sengaja berangkat agak siang ke sekolah,karena aku tau Anggie masih siap-siap di kamarnya. Aku beranikan diri menghampirinya dan mencoba menyapanya. Bermaksud untuk mengajak beangkat kesekolah bersama, tapi sayang sepertinya usahaku kembali sia-sia. Dia seolah-olah menganggapku tak ada. Saat itu, tak sanggup lagi rasanya hatiku menerima perlakuan seperti ini. Dia hanya diam saja tak perdulikan omonganku.

”Nggie ,, aku kesekolah duluan ya.” Lagi-lagi aku tabah-tabahkan hati setelah sekali lagi dicuekin.

Dalam hati aku berdoa semoga Allah melembutkan hatinya dan bisa menerima aku kembali menjadi sahabatnya. Sayang ,, persahabatan indah itu harus pupus di tengah jalan setelah sekian lama membinanya

”Boleh bicara, Nggie ?” Aku menghampirinya di perpustakaan. Dia cuek, tanpa menoleh sama sekali, matanya lekat tertuju pada buku yang sedang dia baca.

“Nggie ,, kamu dengar suara aku kan ?” kali ini suaraku terdengar serak.sedih sekali dicuekin seperti ini.

“Mau ngomong apa ?” Itu suara Nggie.

Alhamdulillah akhirnya suara itu terdengar juga setelah sekian lama aku menantinya. “Kita tidak boleh seperti ini terus Nggie, diam-diaman tanpa kenal dosa.sedih hati ini Nggie, kita bersahabat sejak lama, sayang hanya karena masalah sepele kita bermusuhan seperti ini. Mari kita rajut kembali benang-benang itu menjadi tali ukhuwah yang lebih indah, mari kita bina persahabatan kita kembali.”

Air mataku berjatuhan dari pelupuknya. Air mata itu mengalir mengairi pipi mulusku lalu. “Rabb, hati ini sedih sekali.” Batinku pelan.

“Terserah ....” Hanya itu jawaban darinya.

“Terserah apanya, Nggie ?”

“Ya terserah .”

“Kamu ga boleh seperti itu Nggie, kasihlah komentar harus seperti apa hubungan kita,harus dibawa kemana persahabatan kita ?”

“Up to you !” itu jawaban singkat yang betul-betul menyinggung perasaanku. Sedikitpun dia tidak menghargai aku sebagai sahabatnya.

Dari jawaban ketus itu aku bisa mengambil kesimpulan bahwa Anggie tak lagi menganggap diriku sahabatnya.

“Terima kasih Nggie atas jawabanmu, setidaknya aku tau apa yang harus aku lakukan setelah ini. Maaf kalau aku selama ini tidak bisa menjadi sahabat yang baik bagimu, maaf kalau selama ini aku sering merepotkanmu dan maaf kalau aku harus mengambil keputusan yang aku sendiri tak sanggup melakukannya. Tapi sanggup tak sanggup aku harus tetap menjalankannya. Air mataku bertambah deras membasahi pipi,suaraku gemetar tak terhingga. Sebelum beranjak aku kuatkan hati untuk mengulurkan tangan ingin bersalaman, mungkin jabat tangan terakhir. Alhamdulillah dia menyambutnya walaupun hanya sekilas saja. Aku beranjak ke luar dengan hati pilu. Keputusanku sudah bulat, aku harus hijrah ke tempat lain. Aku tidak mau menjadi masalah disini. Mengalah bukan berarti kalah bukan ??? Namun, sungguh sejujurnya aku tak mengharapkan kejadian ini. Aku pikir semuanya akan baik-baik saja. Sudahlah ... Apa dayaku, Harapan aku selama ini tak kunjung ku dapatkan, ku tak temukan lagi senyuman dari sahabatku."

SAHABAT Aku bersembunyi .. Bukan berarti aku menghindar Aku tenggelam.. Bukan berarti aku menghilang Tapi.. Semua itu aku lakukan Demi kebaikan kitabersamanya…. (Karya AF. Ridwan)
komentar | | Read More...

Menjalani Cinta yang Baru

Mmmm.... pagi itu Peni bangun dari tidurnya dengan perasaan yang tidak menentu. Perasaan seseorang yang menantikan kepastian dari kelanjutan kisah untuk mengakhiri pencarian cintanya. Entahlah, yang jelas, sampai sekarang masih teringat sedemikian rupa bagaimana kisah itu berawal dan berjalan. Tiba-tiba hanphone Peni berdering saat dia siap-siap berangkat kerja pagi itu. Rupanya telepon yang baru diterimanya itu adalah dari sahabat abang kandungnya, Rio yang baru sampai dari luar kota. Rio ingin bertemu Peni, karena ada suatu keperluan dan pertemuan itu dan itu direncanakan di salah satu tempat penyeberangan.

Memang, sebelumnya pun mereka sudah janjian untuk bertemu, dan sekalian Rio ingin nginap di rumah Peni. Tetapi dalam percakapan di telepon itu Peni mengatakan tidak bisa menjemput.

“Aduh, Peni tidak bisa jemput, ini sedang buru-buru mau berangkat kerja,” kata Peni.

“Saya maunya Peni yang jemput,” jawab Rio dari ujung sana.

Peni bingung harus gimana lagi, karena sudah terkejar waktu. Tetapi akhirnya ditemani Mamanya Peni menjemput Rio juga, apalagi secara kebetulan kendaraan umum sedang mogok beroperasi. Peni dan Mamanya bergegas berangkat. Setiba di tujuan, dengan pede Peni menyapa cowok bertopi yang diyakininya adalah Rio.

“Rio ya,” sapa Peni.

“Peni ya,” balas Rio.

“Iya, aku Peni,” jawabnya.

“Peni membawa Mama ya? Tapi katanya sendiri saja,” tanya Rio spontan.

Peni memberi alasan mengapa dia membawa Mamanya, dan syukurlah alasan itu diterima Rio. Karena jam kerja sudah menunjukkan pukul 8.30, Peni langsung pergi ke tempatnya kerjnya, sedangkan Rio pulang ke rumah Peni bersama Mama Peni. Setiba di tempat kerja henphone Peni bergetar, ternyata SMS dari Rio yang katanya.

“Kenapa Peni bohong, Rio kan jadi gak enak dengan mama Peni”.

SMS itu Peni balas, “itu untuk kebaikan Rio juga, soalnya kendaraan umum kan mogok, kalau tidak dijemput dengan Mama, bagaimana tahu Rio ke rumah”.

Dengan waktu yang tidak lama balasan dari Rio pun diterimanya lagi. “Iya dech, Rio maapin asal gak boleh bohong lagi ya?”

Peni pun kembali membalasnya “Sip boss,”.

Dengan pertemuan singkat itu, hampir tidak berhenti henphone Peni bergetar. Bermacam-macam pertanyaan datang dari Rio, yang nyuruh cepat pulanglah, katanya rumah Peni sepilah dan sebagainya. Padahal di rumah Peni setiap hari ramai, Peni jadi heran. Seharian itu Peni pandai-pandai mencari waktu selah untuk membalas SMS dari Rio, sampai-sampai dia jadi tidak fokus lagi berkerja. Setiba di rumah, Peni tidak langsung ngomong, karena pada saat itu Rio lagi asik-asik cerita dengan keluarga Peni. Karena itu Peni langsung main ke depan rumah. Eh tiba-tiba Mama Peni memanggil, katanya ada perlu. Ketika mau melangkah menghampiri Mamanya, hanphone Peni berdering ternyata telepon itu dari teman dekat Peni. Selama Peni menerima telpon dari temannya itu, tidak hentinya Rio memperhatikan Peni dengan tatapan yang panjang. Peni merasa tidak enak. Di saat Peni mau beranjak tidur, banyak sifat-sifat Rio yang aneh. Minta kupaskan buah-buahan, minta ditemani cerita dan lainnya, padahal mereka baru kenal. Pada pagi harinya, mulailah Peni dan Rio berbincang-bincang di teras rumah. Dari perbincangan itu Peni sangat kagum dengan sosok Rio. Karena bergitu banyak pengalamannya, itu terutama disaat dia menjabat sebagai presiden BEM di kampusnya. Hampir seluruh organisasi dan kegiatan digelutinya. Melihat dari tingkah dan omongan Rio waktu itu, Peni berpikir, hal itu dilakukan Rio ke Peni hanya sebatas antara abang dengan adik saja.

Tepat perpisahan sekolah Peni sehari setelah itu, Rio juga ikut hadir, kebetulan Rio adalah alumni dari sekolah itu juga. Ada suatu kejadian yang membuat Peni tercengang melihat sifat Rio waktu itu. Kenapa tidak, henphone milik Peni dipengang Rio dan isinya habis diperikasa. Kini hampir tidak pernah Peni pegang hanphone itu lagi. Setiap Peni berbicara ataupun dekat dengan teman-teman cowok, Rio risih, ada saja kata-kata Rio pada saat itu yang seolah-olah Rio adalah pacar Peni, padahal Peni sudah menjelaskan bahwa tidak ada hubungan apa-apa, kecuali hanya sebatas teman dan sahabat. Setiba di rumah, Peni mulai menanggapi serius sifat Rio yang baru beberapa hari dikenalnya. Malam itu juga Peni dan Rio pergi keluar, di sepanjang jalan kata-kata Rio mulai menujukkan secara tidak langsung tentang perasaannya, Peni bingung dan tidak tahu harus menjawab apa. Tiba-tiba di hati Peni mengatakan kalau dia juga merasa perasaan yang sama, tapi Peni mendapat informasi dari abang kandungnya, kalau Rio sudah punya pacar, karena itu Peni tidak mau hal itu sampai Rio tahu. Sampai di rumah tidak ada hasil apa-apa dari semua pertanyaan Rio, karena Peni hanya diam saja. Peni langsung menuju ke kamar, Peni termenung. “Apa yang harus aku lakukan?”, bisik Peni dalam hati. Dia bingung, karena pada saat itu Peni sudah menjalin hubungan cinta dengan teman cowoknya. Tetapi setelah beberapa kali berbincang dengan Rio, hatinya luluh, terutama dikarenakan sifat Rio yang ramah tamah, sangat perhatian dan tampil apa adanya. Sebab itu dia berpikir, jawaban dari pertanyaan Rio harus segera disampaikan, karena menurutnya lebih cepat adalah lebih baik, apalagi Rio masih berada di tempatnya. Henphonenya yang sebelumnya dipegang Rio, diambilnya. Peni pun mulai menuliskan SMS untuk menjawab semua pertanyaan Rio.

Setelah membaca SMS dari Peni itu, Rio tidak membalasnya malah Rio langsung menghampiri Peni yang duduk di ruang tamu.

“Kenapa baru sekarang Peni jawab,” tanya Rio kepada Peni yang duduk di sebelahnya.

“Aku tidak mau mengacaukan suasana perjalanan kita. Peni lakukan ini, karena Rio sudah punya pacar kan?” jawab Peni.

“Kenapa Rio bersikap seperti ini ke Peni?” tambah Peni.

Barulah Rio menceritakan permasalahan yang terjadi. Menurut Rio, dia dan pacarnya saat ini tidak bisa disatukan lagi, karena faktor satu suku, palagi saat ini mereka sudah lama tidak bertemu dan berkomunikasi. Rio pun men ganggap hubungan mereka sudah berakhir. Mendengarkan cerita Rio yang panjang lebar malam itu, satu kesimpulan diambil Peni, yakni menerima cinta Rio. Hubungan Rio dan Peni pun terjalin. Rio dan Peni berencana akan memantapkan menjalin asmara mereka dengan saling percaya dan sering berkomunikasi meski dengan jarak jauh.*** (Karya Anggit Priambodo)
komentar | | Read More...

Pahitnya Obat

Seorang raja memiliki istri yang sangat ia cintai. Sayang, istrinya tidak bisa memberinya keturunan. Banyak tabib telah berusaha mengobatinya, namun tidak berhasil. Ia diberitahu bahwa ada seorang tabib yang sangat mahir di suatu tempat tertentu.

"Panggillah ia kemari," titah sang raja.

Tak beberapa lama datanglah sang tabib ke hadapan raja.

"Jika kalian ingin aku mengobatinya, maka biarkanlah aku berdua dengan sang permaisuri, tutuplah dengan hijab," kata sang tabib.

Mereka kemudian meninggalkan kedua orang itu.

"Setelah kuamati bukuku, ternyata ajalmu telah dekat. Sisa umurmu tak cukup untuk mengandung dan melahirkan. Umurmu hanya tinggal 40 hari lagi," kata sang tabib kepada permaisuri raja.

Setelah merasa cukup berbicara dengannya, sang tabib kemudian mohon diri. Sejak pertemuannya dengan sang tabib, nafsu makan permaisuri sangat berkurang.

Makan siang dihidangkan, namun ia tidak memakannya. Makan malam disiapkan, ia juga tidak menyentuhnya. Raja khawatir dengan keadaan istrinya.

"Apa yang terjadi denganmu?" tanya raja.

"Orang bijak itu mengatakan bahwa umurku tinggal 40 hari," jelas istrinya.

Permaisuri lalu menceritakan semua yang dikatakan oleh sang tabib. Semakin hari tubuh sang permaisuri semakin kurus. Empat puluh hari lewat sudah, tetapi ia tidak mati juga. Raja kemudian mengutus orang untuk mengundang sang tabib.

"Empat puluh hari telah berlalu, namun istriku tetap hidup," kata raja kepada sang tabib.

"Sesungguhnya aku tidak tahu kapan ajalku tiba, apa lagi ajal orang lain. Namun saat itu, aku tidak menemukan obat yang lebih manjur dari berita yang menakutkannya. Istrimu selalu makan yang nikmat-nikmat sehingga lemak menutup rahimnya. Sekarang temuilah dia dan kumpullah dengannya. Insyaa Allah dia akan hamil." Tak lama kemudian tersebar berita bahwa permaisuri raja hamil. (Karya Budi Setiawan)
komentar | | Read More...

Tetesan Air Cinta

Desir-desir angin yang menghembus di bawah naungan matahari yang mulai menguning sinarnya ini. Mungkin dapat membawa rasa damai di setiap hati yang merasakannya. Tapi tak seperti halnya dengan hatiku,entah mengapa dan apa yang dirasa hati ini, aku pun belum mendapat jawaban. Ingin pulang?tidak. ada masalah dengan shabat, mungkin. Tetapi tak separah sesuatu hal yang tak enak diperasaan hati seseorang karena masalah itu masih bisa di atasi dan merupakan hal yang wajar. Terlebih lagi aku relibah dalam sebuah organisasi di sekolah ini. Sebuah organisasi yang mengurus sistem pembelajaran dan pelatihan sepanjang hari. Ya, sepanjang hari tanpa henti karena aku hidup di pondok. Kembali ke perasaan aku lagi. Kadang aku bingung sendiri dengan diriku ini.

Musim di hati ini selalu tak menentu. Kadang terlalu ceria, sering juga aku menjadi sangat pendiam. Ya, kini hatiku sedang menjadi menjadi hati yang pendiam. Aku duduk di lonteng bangunan setengann jadi ini. Kupandangi hijaunya panaroma pegunungan, yang seakan menjadi benteng yang mengayomi pondok kecil ini. Aku terdiam, lagi terdiam. Bukan untuk melamun atau mengkhayal, bahkan bermimpi. Kediaman ini sering membuat sahabat menjadi salah paham atas sikapku ini. Oo, kawan ... bukan maksud hati ini seperti begitu. Hati ini tidak marah. Tetapi bibir ini tak dapat mengungkapkan kode hati ini yang berucap. Hingga bibir ini tak mampu membuka dan mengatakan satu kata pun.

“Ya Alloh,.. hati ini jadi merasa sangat bersalah, ampuni hati ini Ya Alloh...”. batin ku menjerit.

Entah mengapa hati ini sampai melukai hati sahabat, apa kalu hati ini tiada yang yang menyapa. Bahkan sampai dikata orang. Ah, hati rasanya berkencamuk tak menentu, hancur bagai ditekan palu raksasa hati ini. Ah, merpati putih yang mendarat di seberang pandangan mataku ini menggugahku dari dunia ilusiku.

Merpati cantik milik putrabdari Ustadzku di pesantren ini, seakan mengingatku akan hidupku yang tengah ku jalani kini.

“Wahai merpati, sekiranya engkau dapat berbicara, aku kan meminta pendaptmu tentang hati ini. Kabarjan aku tentang sesuatu yang sedang ku rasa kini, wahai merpati...” Merpati itu ku hampiri. Tetapi dia kembali melayang saat dia mendapatiku mendapatiknya. Bibirku tersenyum melihatnya lepas landas.

“Andai ku miliki sayap, sudah pasti aku akan terbang bersamamu, wahai merpati, mengingati indahnya ciptaan alloh yang begitu menawan...” mataku sambil memandang ke arahnya.

“Ya Alloh,... Astaghfirullohal’adzim...Ya Alloh, jangan jadikan perkataanku ini tadi sebuah kekufuran atas nikmat-Mu kepadaku, wahai Dzat Yang Maha Indah dalam menciptakan segala sesuatu”. Aku melihat sekelilingku.

Aku masih menetap duduk di atas lonteng bangunan yang setengah jadi ini. Telingaku mendengar suara tawa, ada pula yang sedang menyenandungkan Ayat Al Qur’an di bawah bangunan sana. Ya, mereka adalah adik-adik kelasku, juga sahabat seperjuanganku. Memang tak ku sebut kakak kelasku, karena aku termasuk angkatan yang paling tinggi dari jenjang penuntut ilmu yang ada di pesantrenku ini. Tentang kakak kelasku, mereka telah meninggalkan aren pendidikan ini, menuju gerbangkehidupan yang lebih bermakna lagi. Mudah-mudahan Alloh selalu merahamti dan selau memberi petunjuk kepada mereka juga kita semua. Amien ya Rabb...

“Madza ta’malin, Al...” seorang sahabat menyapaku dari samping bangunan bawah, dirinya menyapaku dengan panggilan karibku, Alya.

Nama lengkapku adalah Fika Bintana Alya Qonita. Sebuah nama yang telah di berikan orang tuaku kepada diriku. Sebuah nama yang memiliki makna, Fika anak putri kami adalah perempuan yang taat. Kembali kesahabatku. Biasa, memang santriwan-santriwati di pesantren ini wajib menggunakan bahasa arab dan bahasa inggris. Aku membalas sapanya hanya dengan senyuman. Karena hati ini diriku menjadi sangat pendiam. Kupandangi langit barat, nampak ufuk sana matahari yang kian menguning, bahkan memerah. Murottal pun sudah di senandungkan melalui pengeras suara. Andai aku dapat menghambat waktu, pasti akan ku bendung waktu ini, karena aku masih terlalu betah untuk disini. Tetapi aku tak kuasa. Sungguh itu kuasa Tuhan, tiada siapapun yang kuasa selain Dia Yang Maha Kuasa. Dengan berat hati kulangkahkan kaki ini ke tempat yang telah ku hangatkan ini. Demi menunaikan kewajibanku kepada pondok ini juga pada Tuhanku , Alloh Yang Esa. Pagi ini, aku kembali terdiam. Sungguh aku bukanlah seorang yang pendiam. Namun kondisi hati ini teah mengubah haluan sikapku. Sahabt semakin penasaran heran yang meningkat. Sesekali aku tersenyum terpaksa kepada mereka, sebagai simbol bahwa aku tidaklah marah.

 Kejadian itu terulang lagi. Bunga mekar di bawa sadarku, yang membawaku memasuki dunianya. Ah, dua orang putra itu terlalu asing dimataku.

“Duhai bunda, Alangkah Indahnya, bila nanti aku telah bersamamu dengan nyata. Bila nanti aku bersua dengan bahagia bersamamu. Aku merindukan hal itu bunda, aku selalu menanti”,desah salah seorang putra yang kutemui dimimpi itu. Menangis lantas berlalu. Hitam lagi seluruhnya. Ah, mimpi yang sungguh aneh, yang menjadi pikiranku hari ini. Ingin aku abaikan mimpi itu, tetapi aku tak kuasa, mimpi yang terlalu nyata untuk dibilang mimpi,hingga aku terdiam memikirkannya. Tanpa aku ceritakan kepada siapa pun, ku coba mencari jawaban dan menangkap sinyal kisah itu. Namun tak berujung juga pencarian itu.hingga hari seusainya. Yang justru kisah itu mendatangiku di alam yang sama, alam bawah sadar. Hatiku semakin risau, gundah gulana memikirkanya. Entah pertanda apa kisah itu, adakah sesuatu yang akan terjadi kepadaku? Mungkinkah itu baik, atau buruk? Semua menghilang lagi, hitam, masih begitu misteri. Tak banyak hal yang kulakukan untuk hari ini. Aku memikirkan peristiwa itu. Ya, aku terlalu bodoh untuk memahami kejadian dan tokoh dalam kisah itu.

“Ah, bunga metamorgana yang merekah dalam tidurku...Andai engkau dapat lebih jelas mengambarkanku...” Amboi...saat kulihat langit timur, disana nampak garis-garis lengkung berwarna-warni nan indah. Garis-garis cantik yang mampu menarik hati siapa yang memandangnya ternyata tak hanya aku yang menyaksikanya diluar sana, banyak pasang mata yang tengah tertuju padanya.

“Alya...alya...”teriak dina (seorang sahabatku di pesantren ini) mencariku.

“Antum dicari sama uhkti nida ! cepatlah turun!”

“ya...sebentar...!”

Pelangi oh pelangi, warna cerahmu membuat hati kami lebih indah, hati semakin merekah. Ya, setaip ada pelangi kami akan selalu bersama untuk menatapnya. Tidak pernah terasa sepi hati ini dalam kebersamaan seperti ini, hati ini jadi riang. Tapi, tak berapa lama denting telepon disamping kamar kami terdengar nyari.

Aku jawab teleponya, “Assalamu’alaikum....ini dengan siapa?”

terdengar dari seberang sana : “Wassalamu’alaikum...saya ingin bicara dengan Fika Bintana Alya Qunita, kelas XII..”

“ya, ini saya sendiri...”

“O...iki pa dhe’ ndo, sesuk mulih injih...”

“Wonten menopo sih pa dhe’...”

“Pokoke sesuk mulih..bakal tak jemputke sesuk...”

“Injih..”

“Nggih pun, Assalamu’alaikum...”

“Wa’alaikum salam..” Deg ! detak jantungku terasa terhenti, napasku mulai sesak, ku kembali terdiam.

*************

Kabut pagi mulai menyamar, menghilang diri. Bel masuk sekolah berdering, hari ini aku sekolah seperti biasa. Dengan rasa gelisah, aku mengikuti pelajaran sedikit rasa menanti kedatangan pak dhe aku. Hingga aku pulang sekolah beliau tak kunjung datang jua. Ketika matahari mulai “lingsir”, saat para santri usai dari masjid, nampak seorang lelaki paruh baya berdiri di depan pintu gerbang asrama putri. Ya, dialah orang yang ku nanti pak dhe aku.

Ku hampiri, katanya : “Sindho harusnya pulang malam ini ya...”

aku mengheran : “ada sebenarnya sih pak dhe...tetapi aku harus ijin dulu sama ustadzah...”

“ya..dimana beliaunya...?”

“disana” (sambil menunjuk tempanya ustadzah).

Kami mengampirinya dan alhamdulilah saya di ijinkan. Aku bergegas, sedang pak dhe menungguku didepan kamar. Aku berpamitan dengan teman-temanku. Aku dan pa dhe menuju rumah dengan bersepeda motor. Jam 8 malam, aku sampai dirumah. Di dalam rumahku perhatikan banyak orang berpakaian rapi duduk di sofa. Ku salami mereka . ada juga di sana Zain Fikri Al Mustofa, salah seorang ustadzku saat belajar TPQ Khozinatul Asror dulu. Kemudian aku menaruh tasku dikamarku terdengar suara ibu memanggilku untuk bergabung bersama mereka.

“ini ndho’... calon pendampingmu, namanya Zain Fikri Al Mustafa. Ibu mnerima Dia dan keluarganya untukmu, karena mereka pantas untukmu, dia menginginkanmu dengan halal, dia dia sungguh mencintaimu, dia meminangmu”.

Butiran air mata mulai membasahi pipiku. Dituruti ibuku, semua rasa berpadu satu. Ada bahagia ada khawatir. Kucoba memikirkan keunggulan darinya.

Dan akhirnya aku bertanya: “tapi bagaimana dengan sekolahku, Bu...?”

“Tenang, nak...kami tdak akan terburu. Kami menantimu siap menerima kami” kata ibu Zain.

Hujan mataku semakin menderas, dengan bismillah, aku meminta waktu kepada keluarga. Kemudian keluarga Zain memahamiku dan berpamitan. Sampainya diperjalanan, Zain dinasehati oleh Abahnya bahwa apabila seseorang waniata diam, dan meminta waktu, berarti dia menyetujui permintaan. Setelah itu pula Zain meminta turun dari mobilnya dan kembali kerumahku.

“Assalamu’alaikum...maaf Bu, saya hanya ingin menyampaikan nasehat Abah saya, bahwa seseorang wanita terdiam atas permintaan sesorang berarti dia menyetujui. Apakah itu yang ada dihati Alya, bu?”. Ibu tersenyum menagguk. Dia menangis dihadapan Ibu . aku keluar dari kamarku, aku dekati ibu, dan terus menangis. Saat itu juga dengan rasa harap atas Ridho-Nya danmengucapkan bismillah, aku terima cintanya . Mimpi yang dulu telah terjawab sudah. (Karya Dani Ayu Cahyani)
komentar | | Read More...

Ada yang Hilang

Udara setelah shubuh memang begitu dingin di pesantren Al Ihsan. Seluruh santri dengan khidmat dan khusyu’ melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Tetesan embun selalu menyemarakkan peristiwa pasca-shubuh. Allah SWT senantiasa mencurahkan berkahnya kepada hamba-hamba-Nya yang tidak lalai dalam mengingat-Nya. Seakan-akan pagi itu menjadi saksi akan turunnya keberkahan Allah kepada santri-santri pesantren Al Ihsan.   Seperti biasa selesai membaca Al-Qur’an seluruh santri kembali ke kamar dan mempersiapkan diri mereka untuk masuk kelas. Namun pagi itu, Ust. Ali memanggil Irfan ke kamarnya.  Di kamar Ust. Ali, Irfan duduk dan di hadapannya duduk Ust. Ali.

“Kenapa akhir-akhir ini kamu nakal, Fan? Tanya Ust. Ali, ingat kamu bukan anak baru lagi. Kamu sudah kelas dua belas di sini." Jelas Ust. Ali.

“Nggak ada apa-apa, Ustadz.” Jawab Irfan menunduk.

 “Dulu kamu tidak seperti ini, kenapa sekarang bandel? Pasti kamu punya masalah.”

Ustadz Ali dikenal sebagai orang yang tegas, berwibawa dan ta’at peraturan. Di samping itu beliau juga ramah dan sering membantu santri yang sedang kesusahan. Suatu hari ia pernah meminjamkan uang kepada seoarang santri yang belum melunasi SPP untuk syarat mengikuti ujian akhir kelulusan. Kini Irfan sedang punya masalah, ia pun tidak tinggal diam. Baginya santri yang belajar di pesantren Al Ihsan adalah amanat. Bila amanat itu rusak maka hilanglah kepercayaan masyarakat. Selain itu beliau juga mengamalkan hadist Rasulullah SAW yang berbunyi: Laa imaana liman laa amaanata. Tidaklah beriman orang yang tidak beramanat. Amanat bagi Ust. Ali adalah seluruh santri.

Irfan meneruskan jawabannya: “ Saya bosan di sini,.”

“Kalau bosan sih bisa dibuang. Kamu harus rajin beribadah, Fan!”

“Iya, tadz, saya mengerti.”

“Ya sudah! Kalau perlu izin, pulang saja dua atau tiga hari, tawar Ust. Ali.”

“Iya, tadz. Saya minta izin pulang tiga hari saja.. Saya mau ketemu orang tua.”

“Kalau begitu, Ustadz tuliskan surat izin buat kamu sekarang sekalian tashdiq untuk tidak masuk kelasnya juga.”

Pukul 08.00 tepat Irfan meninggalkan pesantren. Dia berniat ketika sampai di rumah akan memperbarui niatnya dalam belajar. Ia juga ingin meminta nasihat ayahnya dan ibunya.    Ketika ia sampai di persimpangan jalan ia melihat sebuah bendera putih terpasang di tiang listrik di belokan menuju rumahnya. "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji”uun", ucap Irfan dalam hati. Siapa yang meninggal? Tanyanya dalam hati.

Irfan meneruskan langkahnya. Dalam hatinya ia merindukan sosok ibunya yang selalu memberikannya kehangatan. Ia selalu bergantung pada ibunya saat mendapatkan suatu masalah. Ibunya pun selalu menolongnya dengan penuh perhatin kepada anak satu-satunya, si Irfan. Irfan terlalu manja maka ayahnya pun mengirimnya ke pesantren agar ia bisa mandiri walau itu berat baginya dan ibunya. Sudah enam bulan Irfan belum bertemu lagi dengan ibunya setelah Ramadhan lalu. Ia hanya sempat berbincang dengan ibunya satu bulan yang lalu melalui telepon. Di telepon, ibunya berpesan agar ia tidak pernah lupa pada janjinya dahulu ketika masuk pesantren untuk belajar dan menjadi anak yang shaleh dan pintar.     Sebentar lagi Irfan akan bertemu dengan sosok yang sangat dirindukannya itu. Ia membayangkan ia akan dibukakan pintu oleh ibu dengan penuh kehangatan. Ia terus mempercepat langkahnya.

Beberapa meter dari rumahnya, ia melihat orang-orang berkumpul di sana. Wajah mereka menampakkan gurat-gurat kesedihan. Di anatara mereka terdapat sanak familinya juga. Ia tertegun melihat bendera kuning di pagar rumahnya. Ia hanya hidup bersama ayah dan ibu, lalu siapa yang meninggal? Lirihnya. Jantungnya berdegup kencang. Dari jauh Paman Manshur menyadari kedatangannya dan bergegas menghampirinya. “ Irfan sudah pulang. Tadi Paman Rahmat baru mau jemput kamu ke pesantren. Ucap paman Manshur berusaha tersenyum. Ayah ada di dalam sedang menemani tamu yang datang…Dalam benak Irfan tersirat, kalau ayah ada berarti…

“Ibuuuuuuuuuuuuuuu… di mana?" Air matanya meleleh.

"Fan, kamu mesti sabar. Allah bersama orang-orang yang sabar. Sekarang ibu beristirahat. Penyakit jantung ibu kambuh. Dan ternyata Allah sayang sama ibu…"

“ Ibuuu…" Irfan berlari dengan air mata berlinang manjauh dari paman Manshur yang juga mengalirkan air matanya.

Siang itu juga jenazah ibu Irfan dimakamkan. Irfan teringat janjinya dulu ketika ia baru masuk pesantren bahwa ia tidak akan manja dan cengeng lagi dan ia juga haurus belajar dengan giat.

Seusai pemakaman, ayah Irfan berdiri di sisinya mengingatkan:

“Fan! jangan nangis lagi, ya! Kasihan ibu kalau melihat kamu nangis. Nanti ibu juga sedih… Kamu udah makan belum?" Tanya ayah.

"Belum, yah!" Jawab Irfan berusaha memahami dan tegar mengahadapi cobaan ini.

“OK! Sekarang kita makan dulu. Nanti malam kita yasinan di rumah.”

Mereka pun kembali ke rumah dengan mengendarai mobil mereka. Di dalam hati Irfan berusaha untuk tabah dan mulai menepati janji yang belum sempat ia tepati pada ibunya. Ia terus Manahan kesedihan yang dalam itu.

Setelah tiga hari di rumah. Irfan kembali ke pesantren. berita tentang dirinya telah tersebar dan pihak pesantren pun mengucapkan rasa bela sungkawa sedalam-dalamnya. Kini Irfan menjalani aktifitasnya di pesantren sebagai seorang santriwan yang sholih dan taat pada peraturan pesantrennya. Seperti apa yang di inginkan oleh mendiang ibunya.********* (Karya Fajriyati)
komentar | | Read More...

Gadis Cerdas, Gadis Impian

Ada seorang pemuda Arab tanpan, shalih, dan sangat cerdas. Dan ingin menikah dengan gadis sholihah dan cerdas seperti dirinya. Maka, mulailah dia mengembara dari satu kabilah ke kabilah lain, untuk mencari gadis impiannya. Suatu ketika, dia berjalan kabilah di Yaman. Di tengah perjalanan, dia berjumpa dengan dengan seorang lelaki. Akhirnya, dia berjalan dengan lelaki itu.

Pemuda itu menyapa, “Hai, Tuan, apakah kau bisa membawaku dan aku membawamu?”

Spontan lelaki itu menjawab “ Hai bodoh, kau ini bagaimana? Aku menunggang kuda dan kau juga menunggang kuda. Bagaimana kita saling membawa?”

Pemuda itu diam saja mendengar jawaban lelaki itu. Kemudian, keduanya melanjutkan perjalanan. Lalu, mereka melewati sebuah kampung. Kampung itu yang dikelilingi oleh kebun yang sudah tiba masa panennya.

Pemuda itu bertanya.”Menurutmu , buah-buahan itu sudah dimakan oleh pemiliknya atau belum ya?” Seketika.

Lelaki itu menjawab.”Pertanyaanmu itu aneh sekali! Kamu sendiri melihat dengan mata dan kepalamu, buah-buahnan tiu masih di pohonya dan belum dipanen, kok kamu bertanya, apakah buah-buahan itu sudah dimakan oleh pemiliknya atau belum?”

Pemuda itu hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan pemuda itu. Kemudian, keduanya perjalanan. Baru sebentar berjalan, mereka bertemu dengan ornag-orang yang sedang mengelilngi jenazah.

Pemuda itu berkata, “Menurutmu, yang diiringi dalam keranda itu masih hidup apa sudah mati, ya?”

Lelaki itu tidak paham denganmu. "Aku tidak pernah menemuka pemuda yang lebih bodoh darimu. Ya, jelas! Jenazah itu akan dibawa kekuburan. Tentu dia sudah mati.” Pemuda itu kembali diam dan tidak menjawab sedikit pun atas komentar lelaki itu.

Akhirnya, keduanya samapi dirumah lelaki itu. Dia menajak lelaki tiu menginap dirumahnya. Dia mersa kasiahn, sebab pemuda itu terlihat sudah sangat letih. lelaki itu memiliki seorang gadis yang sangat cantik.

Begitu tahu ada seorang tamu menginap, anak gadisnya itu bertanya,”Ayah, siapa iu?”

“Dia pemuda paling bodoh yang pernah aku temukan,”jawab ayahnya.

Anak gadis itu malah penasaran.

Dia mengejar dengan pertanyaan berikutnya,”Bodoh bagaimana?”

Ayahnya langsung menceritakan awal pertemuannya dengan pemuda itu dan segala perkataan serta pertanyaannya.

Mendengar ceriita ayahnya, anak gadis itu berkata,”Ayah ini bagaimana? Dia itu tidak bodoh. Justru dia sangat cerdas dan pandai. Kata-katanya mengandung makna tersiarat. Ketika dia mengatakan, “apakah kau bisa membawaku dan aku membawamu?”, sebenarnya maksudnya adalah ‘apakah kita bisa saling berbincang-bincang sehingga bisa membawa kita pada suasana lebih akrab?’ ketika dia mengatakan, ‘Buah-buahan itu suadah dimakan oleh pemiliknya atau belum?’ ia memaksudkan,’Apakah pemiliknya sudah menjualnya ketika belum panen, atau belum?’ sebab, jika kita menjualnya, pemiliknya tentu menerima uangnya dan membelanjakan untuk makan dia dan keluarganya. Kemudian, ketika dia bertanya,’apakah jenazah di dalam keranda itu masih hidup atau sudah mati?’ Maksudnya.’apakah jenazah itu memiliki anak yang bisa melanjutkan perjuanganya atau tidak?’

Setelah mendengar apa yang dikatakan putrinya, lelaki itu keluar menemui pemuda itu. Dia meminta maaf atas perkataannya yang membodoh-bodohkan pemuda itu. Keduanya lalu berbincang-bincang.

Lelaki itu berkata,”sekarang aku baru tahu maksud pertanyaan-pertanyaanmu dalam perjalanan tadi”

Lalu Dia menjelaskan seperti yang dikatakan putrinya. Mendengar itu, sang pemuda bertanya, “Saya yaqin itu bukan lahir dari pikiranmu sendiri dan bukan perkataanmu, demi Allah, katakanlah padaku siapa yang mengatakan?”

“yang mengatakan hal itu adalah putriku,” jawab lelaki itu.

Spontan pemuda itu berkata,”Apakah kau mau menikahkan aku dengan putrimu?”

“ya” Begitulah, setelah melalui pengembaraan panjang, akhirnya pemuda itu menemukan pendamping hidup yang dia impikan. (Karya Husein Abdul Latif)
komentar | | Read More...

Pena Yuri

Ditengah kicau burung yang berdendang ria menambah taburan bunga dihati Nina. Senyum renyah yang jarang terlihat diraut wajahnya yang cerah kini mengembang bersama lamunannya. Namun, lamunan yang matang itu tiba-tiba pecah karena ketukan pintu dengan teriakan seorang gadis yang membuyarkan kesunyian. “Nin…..Nina!!! buka pintunya!!!”, teriak cempreng gadis itu. Dengan lunglai dan langkah seolah menyeret kakinya diatas lantai, lalu Nina membuka pintunya. Alangkah kagetnya ketika dia melihat sosok gadis yang jangkung berdiri dengan senyum mengembang diwajahnya. Jantung Nina seolah meloncat kesana kemari tak percaya dengan apa yang dilihat matanya. “Dimana rambut hitam panjang loe ri ? Kamu apakan mahkota loe yang selama ini tergerai indah ? apakah kamu sakit ?”Tanya Nina bertubitubi sambil menempelkan tangannya di dahi Yuri.”Suurpricee ……!!!!! “Gimana gaya rambut gue sekarang ? keren kan ?” katanya santai sambil menyenggol bahu Nina dengan bahunya.”Kapan loe mangkas rambut loe ri ?” Yuri hanya diam tanpa menjawab pertanyaan sahabat kentalnya itu.

Dering jam beker membuyarkan mimpi indah Yuri, srapan pagi sudah menanti kedatangan Yuri. Setelah siap dengan seragam putih abu-abunya Yuri langsung pamit kepada orng tuanya yang selalu memanjakannya. Setelah berpamitan Yuri langsung meluncur menaiki motor kesayangannya menuju sekolahnya yang lumayan jauh dari rumahnya. Diparkirkan motor maticnya di deretan terdepan parkiran sekolahnya. Tatapan aneh para siswa yangYUri lewati membuatnya salah tingkah. Akhirnya Yuri langsung lari menujuNina. “Apa ada yang salah dari gue ????” tanyanya mengawali pembicaraan. ‘Loh kenapa Ri ?” jawab Nina tanpa menghiraukan pertanyaan Yuri. “Semua anak buat gue grogi tau nggak, semua memandang aneh banget seolah ngeliat anak ayam naik motor”. Nina tersenyum mendengar kata-kata yang muncul dari bibir manis Yuri sembari berkata “mereka heran sama gaya rambut loe yang gila itu.” Yuri hanya memanyunkan bibirnya. Nina pun tersenyum asam. Pandangan Yuri kian tajam saat seorang laki-laki melewatinya dengan tatapan sinis. “Kenapa sih dia?”Tanya Yuri. “Pena maksud loe?”sahut Nina. Yuri hanya menganggukkan kepalanya. “dia sirik kale sama loe, gara-gara loe mangkas rambut loe persis kaya dia”. “Haaaaggghhhhh………..apa nggak salah?” heran Yuri. Yuri dan Pena memang mempunyai wajah yang mirip. Bahkan teman-temannya menjulukinya sikembar. Ditambah lagi gaya rambut yuri yang sekarang pendek jadilah mereka kaya upin dan ipin. meninggalkan ruang kelas yang nampak tua itu.

Dengan langkah berat Yuri menghampiri Pena yang sedang duduk sedang duduk santai dikantin. Yuri menyapanya. Yuri memang tampak simpatik pada cowok tampan itu. Akhirnya mereka ngobrol ngalor ngidul dari yang jelas sampai yang ngga jelas banget. Terlihat tawa renyah dari Pena mendengar candaan Yuri. Hari demi hari mereka semakin akrab. Yuri sekarang lebih perhatian pada Pena, begitu pula sebaliknya. Diam – diam Yuri menyembunyikan perasaan sukanya pada Pena. Pena yang dari jaman bahola terlihat cuek kini sedikit berubah jadi perhatian. Dikantin sekolah “Nis ntar pulang bareng gue ya?” ajak Yuri “ehmmmm ………………..kaya’nya gue ga bisa Ri, kembaran loe tuh” “Ri pulang bareng gue mau nggak ?” tanya Pena. “ Uuuugh jelas nggak bakal nolak ……” ledek Nina. “ Huuush!!! Berisik banget sich loe!! Bentak Yuri sembari meletakan jari telunjulnya dibibir. Akhirnya pada saat bel sekolah berdering pertanda berakhirnya pelajaran pada hari itu. Penapun mendekati Yuri yang sedang memasukkan buku dan alat – alat tulis lainnya kedalam tas mungilnya. Mereka naik motor masing- masing dan berdampingan menyusuri jalan bagaikan seorang mempelai karpet merah. Hening, Pena turun dari motornya dan mendekati Yuri. Senyum masam mengembang dibibir Yuri seolah menahan tawa yang dibendung- bendung. “ Kenapa kamu Pen? Tanya Yuri dengan senyum masamnya. “Gue? “tanya Pena balik. “ Ya….”jawab Yuri singkat. “Gue nggak kenapa- kenapa, emang kenapa? “ tanyanya heran. Yuri tidak menjawab pertanyaan yang diajukan cowok jangkung itu.

Tiba-tiba ditengah perjalanan sebuah mobil berwarna merah setepang bulu ayam jago itu menghampiri Yuri dan Pena. Sesosok cowok bertubuh sedang dengan jabriknya yang sepanjang rel itu turun dan menyapa Yuri. “ Hai Ri “ sapanya dengan senyum yang lumayan manis, eegh ralat-ralat emang manis!. “ Egh kak Julian, ada apa? “ tanyanya. “ Gue disuruh jemput loe, Andri lagi disuruh beli sesuatu sama nyokap loe. “ Huugh……selalu deh mama gitu, kapan sich kak Andri jemput gue? Sahut Yuri kesal. “siapa Ri? tanya Pena seolah terlupakan. “ Egh…..ni kak Julian teman kakak gue, kak Julian ini Pena”. Oooh jadi ini kembaran loe, “ balas Julian. “ Huush jangan bilang-bilang kak ucap Yuri lirih. “ Haagh kembaran?” heran Pena. Ehemm…. Nggak kok kak Julian emang suka ngasal, jawab Yuri gugup. Julian hanya manggut-manggut tak berdosa. “ Hemm ya udah pulang yuk”. Kata cowok manis itu. “ Ya kak, kakak duluan aja, ya udah gue pulang dulu ya Pen”, pamit Yuri. Pena hanya mengangguk kepala akhirnya Yuri pulang bersama Julian yang nggak lain adalah sahabat kakaknya. Sekaligus teman curhat Yuri yang dengan sabarnya mendengar ocehan-ocehan Yuri setiap hari, setiap jam, setiap detik. Acara makan siang baru saja selesai. Beberapa detik kemudian Yuri pamit keluar untuk membeli alat-alat yang sudah ditulis dalam catatan kecil seperti contekan, bersama Julian.

Sesampai ditoko Yuri langsung menuju alat-alat yang akan dibeli. Saat akan mengambil Yuri memandang ke sekeliling, tanpa sengaja ia melihat seseorang yang ia kenal, egh emang kenal. Itu Pena? Yuri melongo. Ngapain ia jalan sama cewek? batinnya kesal hatinya hancur bagaikan kaleng yang ditendang orang terus diinjak dan terlindas truk. Bening air menetes dari mata indah Yuri. Yuri menangis? Wow…..dengan menahan tetes bening mengalir lagi, Yuri menghampiri Pena. “ Hai Pena” sapa Yuri dengan lesu. “ Hai….Yuri gi apa? Jawab Sakti. Gue? tanya Yuri bego. “ Ya”. “ Hemm gue…..gue…..lagi, lagi nunggu Julian, eh nggak…. Gue lagi, Gue? Tanya Yuri bego. “Ya”. “Ehmm gue…. gue…. Lagi, nunggu Julian, eegh ga…. Gue lagi beli alat tulis. “kamu kenapa? Tanya cewekkk imut yang bersama Pena. “Yuri dian. Ri, kenalin ini miankan sobat gue, ucap Pena. “Yuri” kata Yuri sembari mengulurkan tangannya. “Mianka, sembarimenyambutuluran tangan Yuri. “Yuri….” Panggil Julian. “Ya” jawabYurimasih kedengeran bego. Lalu tanpa basa basi. Julian menarik tangan Yuri sambil melemparkan senyuman untuk Pena dan Mianka. Yuri nurut tanpa bicara sepatah kata pun. “Kmau kenapa?” tanya Julian khawatir. “Pena…” jawab Yuri terpotong. “YaPena kenapa?” tanya Julian makin khawatir. “Pena udah punya cewek” jawab Yuri dengan tampang sangat memelas. Sunggug tidak tega melihat tampang itu. “Heemb… jangan nyimpulin sesuatu buru-buru . Mungkin Pena memang hanya bersahabat dengan Mianka,”tanggap Julian menenangkan. Pagi cerah, Yuri masih lesu, dia berangkat dengan tampang yang masih sangat memelas. Sesampai di sekolah Yuri langsung menuju kelas dan langsung duduk ditempat peraduannya. Nina yang juga baru datang seolah mendapat panggilan untuk menghampiri Yuri. “kenapa loe ri..?” tanyanya perhatian.Yuri hanya diam dengan pandangan kosongnya. Yuri jadi lesu dan perasaan sukanya yang dulu hanya untuk Pena berubah menjadi rasa benci. Yuri berdiri dan “Aduuuggh…..!!!!! monyong nech meja!!! Kenapa juga ada disitu!!!!” bentak yuri. Kakinya berdenyut lantaran menabrak meja di depanya. “sakit ri?” tanya Pena yang baru datang. “gak Cuma geli!! Udah tau sakit bukannya nolongin malah nanya!” “Idiiiiiiiigh dasar …….. kenapa loe? Orang tanya baik-baik dasar galak!”. “Pen, loe urus ajah jabrik loe yang kayak semak-semak itu. Gak usah urusin sifat gue!”. “hahahaha….” Pena ngakak. “walah-walah loe mulai perhatian ya ma gue. Kok tau kalau gue belon nata jabrik gue”, ledek Pena. Grrrrrrghh !!!!!! sesaat Yuri meninggalkan si cowok jangkung itu.” Haugh dasar jelek!” gerutu Yuri dalam hati. Eeeh …. Gak jelek kok sebelas duabelas sama 2ac Efron lah! Cuma kalau senyumnya agak manis. Dadanya juga bidang banget, rasanya enak kali merebahkan kepala di sana. Uupss!!! Ralat-ralat, mestinya kan gue jengkel sama dia, lah kok ini kebalik?. Yuri, Pena, dan Nina pulang sekolah harus menjaga perpus” jangan di tekuk gitu dong mukanya. Nanti gak ada yang mau pinjem buku loch” canda Pena. “Mestinya bukan gue yang tugas sekarang. Gueu mau pergi,” kata Yuri kesal. “Bilang ajaloe tue berdebar-debar di sebelah gue, pake alasan mau pergi segala,” goda Pena. “ Iiiiiigh…….sapa juga yang mau di sebelah loe. Mending gue jalan di samping orang gila.” “Orang gila??? Mata loe katarak gak ri? Masa gue di bandingin orang gila, ya jauhlah…..” “emang loe mau di bandingin sama siapa? Kevin julio? Lebih jauuuuh lagi!” Pena tersenyum nakal, “ loch kok tau sikalo gue mirip dia. Aduuuuh ……… gue gak nyangka, berarti diem-diem loe tuh perhatian banget ya. Makasih loh Mrs. Galak. Ubun-ubun Yuri langsung mendidih 100○. Dan panas itu menjalar kemukanya. Nyebelin banget cowok bernama Pena ini !!!! “emang kalau galak kenapa?” sangkal Yuri. “Yeeee elagh….. dari sikap aja udah membuktikan hatinya-galak, hahahaha…..” “sakti reeeseee !!!!!” teriak Yuri kesal. Sembari meninggalkan Pena.

Setelah cukup lama Yuri kembali keperpus, tanpa disadari perpus ramai sampai penuh sesak. Ditengah himpitan sekeliling Yuri mengambil buku berusaha enjoy. “Emang narsis thu cewek. Bikin gue sebel, jengkel, tapi juga kangen”. Suara itu berasal dari himpitan orang-orang dalam perpus. Namun hanya Yuri yang menyima. Sementara Syan lagi lagi asik plarak plirik sambil mengunyah permen karetnya. Yuri menajamkan telinganya untuk mendengar pemberitaan yang tidak seharusnya Yuri dengar. “Ya udah tembak aja, “ ucap syam santai. “enak aja main tembak kalau ditolak, muka gue mau ditaro dimana Man?”. “Weeeeiiiii, something fimiliar? Itu khan suara Pena!” ucap Yuri lirih. Tanpa bisa dicegah tiba-tiba detak jantung Yuri berlomba-lomba menciptakan detakan. Jadi Pena naksir cewek????? Siapa yaa??? Rasanya si tu anak very cool, sama semua orang ramah. Uuugh….. kok tiba-tiba ada sakit di dadanya. Tiba-tiba Syan mendekati yuri. “Ri, kenapa loe narik nafas panjang gitu??? Keselek???” tanya Syan. “lagi banyak pikiran ya? Mikir si Pena sontoloyo itu? Pantes loe banyak berubah”, tambah Syan. “Yeeiii, memang orang gak boleh berubah? Sangkal Yuri. “Masalahnya siapa yang bisa bikin loe berubah! Hayoo….. ngaku! Ntar gue ke toilet dulu. Tungguin ya! Jawab Syan. Duuh…… monyong bener si Syan. Masa si gue beneran naksir Pena, batin yuri. Yuri meregakan tubuhnya, agaknya obrolan yang tadi di dengarnya masih berlanjut. “Dia tu mandiri banget. Rasanya gak butuh cowok deh” itu suara Pena. “mana bisa begitu. Perempuan dan laki-laki kan di takdirkan simbiosis mutualisme Pen” Jelas Syam. “Jadi gimana? Udah dipancing-pancing ngledekin galaknya eehhh…. Malah dia malah jutek. Sensi banget berarti selama ini ngak ada hati sama gue. Iigghhh…. Mending berenang sama ikan hiu dech dari pada ditolak. Yuri mencubit tangannya. Ini mimpi bukan sih? Sebenarnya Pena itu lagi ngomongin tentang dia atau orang lain? Tapi ko’ galak-galak?? “Datangin aja. Mumpung dia lagi bingung tuh…”. Haaaaggghh??? Loh, loh itu suara Syan. Yuri mematung ditempat. Dia tak berani menoleh kebelakang ini kudeta ya? Blank buntu. Burem hadooohh……!!!!!, batin Yuri “Syan biarin aja Pena ngurusin dirinya sendiri. Siapa tahu minggu depan kita bisa double dat. Iya khand?”. Beribu topan badai, bebegig sawah ! Syan ternyata berkomplot dengan Sena dan Nina. Yuri lemas dan duduk lemah dikursi. “RI”, Yuri menoleh kursi dikiri kanannya kosong memudahkan Pena duduk disampingnya. Hei kemana orang-orang ini? Kok tiba-tiba saja ruangan ini seperti melompong. Kosong, hanya gue dan Pena? Tak penuh sesak kaya tadi, batin Yuri. “Eh Pen, ngapain loe? Preeeeetttt……pertanyaan ngak penting!!!!!!. “Gue…..mau duduk aja. Cape’ dari tadi jaga, kalau loe?”, tanya Pena. “Kalau gue…….. ehmmm….. gue…. Gue nungguin Syan. Katanya tadi dia ketoilet bentar”, jawab Yuri “Dia udagh dikantin ama Nina. Kamu mau kekantin juga?” tanya Sena berharap. “Aku mau pulang aja”. Huuugghh…. Ngak sedep kekantin”, kata Yuri sembari memalingkan kepala. Aduuugghhh….. kenap yang keluar dari mulutku seperti itu. Aduuugghh gue kan mau kekantin ama loe Pena. Pliiiissss…… pliiisss…… bisa diralat ngak kata-kata gue tadi ya? “Hmm….. gitu ya. Aku juga boong ko’ mau ajak loe kekantin. Ayo kita pulang aja. Ku antar pulang loe samapi depan pintu Mrs galak”, ledek Pena. Suara itu bersahabat banget. Yuri merasa hangat, indah, dingin, campur aduk jadi satu dihatinya. “kenapa? Ngak mau juga gue antar pulang?”. “Bukan. Kamu ko’ jadi baik gini ama gue? Gue kaann….” “Galak?, potong Pena. “Hmm…… biarpun loe galak sebenarnya loe baik lagi, punya jiwa sosial tinggi pula. Gue mau lebih dari sekedar berteman kalau bolegh,” jelas Pena. Buseeettt….. Pena!!!!! Amazing !!! tentu aja boleh!!!!! Asal loe ngak terganggu dengan galak gue ini, histeri Yuri dalam hati. Saat Pena menggenggam tangannya. Dia berfikir kalau minggu depan dia bisa double date dengan Nina dan Syan, kedua sahabat kental Yuri dan Pena. (Karya Ismi Yundari)
komentar | | Read More...

Pada-Mu Ku Titipkan Cinta

Metafora duka Seperti lembar-lembar sejarah Aku temukan lagi sendu itu dimata mu Dan pada jejak yang menapak Kembali aku bisu ; adakah senja yang tak berakhir..? Matahari yang kalah oleh waktu Malam yang menyerah pada tetes embun pagi Serupa kesedihan kita pula, terhapus Dan digores lagi Maka jika aku kalah nanti.. Tolong beri tahu ( pada air mata dan duka itu ) Bahwa cinta… masih purba dan satu…

****************

 “ Vi nggak mau ikut pleno. Males…..! Vi mau mengundurkan diri saja,” ujarku serius.

Tas eksport millennium di pundakku ku lemparkan ke atas sofa di ruang tamu.

“ Lho…. Kenapa, Vi..? pulang – pulang bukanya ngucapin salam, malah ngedumel. Ada masalah di kampus?” Rina, teman kost ku, menegur dengan tidak kalah serius.

Aku menoleh dengan wajah yang kusut.

“ kok cemberut?”

Aku duduk di bangku rotan di sebelah ku.

“ Habisnya kesel, sampai saya lupa ngucapin salam,” ucapku pelan sambil mempermainkan jemariku dengan resah.

Rina tersenyum bijak sambil mengangguk. “ Okey…! Now, can you tell me your problem, please?” The problem is…. Taufik.” Jawabku Kulihat Rina.

“ Ada apa dengan Taufik?” “Mmm….masalah, tentu saja.”

“ Iya…maksud saya, masalahnya bagaimana, sampai- sampai kamu heboh gitu?”

“ Yang heboh, tuh, temen-temen di kampusku, gara-gara aku menjadi sekretarisnya Taufik. Ada yang malah su’uzhan. Mikirnya yang nggak-nggak. Katanya aku sering berduaan dengan Taufik di ruang BEM. Taufiknya juga nggak mau ngejelasin. Udah gitu doi enjoy aja minta tolong ini itu ke aku. Ketikin ini lah, itu lah…! Kan aku yang malu Rin…” paparku berapi-api. Mataku terasa panas. Aku hampir saja menangis karenanya.

“ Lho…kamu nggak melakukan apa-apa selain tugas mu sebagai sekretaris kan?”

“ Ya iya dong, Mbak..”

“ So, what’s the problem, honey? Nggak usah dipikirin, deh.”

“ Segitu aja pesennya?” Rina tersenyum lagi.

“ Kalau kamu mau, ada baiknya kamu jelaskan pada teman-teman kamu tentang posisi dan tugas kamu sebagai sekretaris.”

“ Aku sudah katakana itu berkali-kali,Rin. Tapi, tetap saja nada-nada sumbang berkeliaran. Sebel! Gimana mau reda, sedangkan dari pihak Taufik kayaknya malah suka kalau ada…..”

“ Nah, ini dia, nih…yang su’uzhan….”

“Biarin! Pokoknya Vi nggak mau ikut pleno. Mendingan juga tidur.”

“Ya lah…jadi putri penidur.”

“Habis…aku mesti bagaimana Rin?”

“Jangan-jangan kamu Cuma ge-er,” ujar Rina.

Kali ini dengan melirik sedemikian rupa dalam maksud menggoda. Hmm,ge-er? Benar juga. Bisa jadi aku Cuma kege-eran.

“Cobalah bersikap biasa dan apa adanya, agar perasaan-perasaan semacam itu hilang dengan sendirinya. Dan untuk menjaga peluang dan celah-celah masuknya syaithan, berusahalah untuk berbagi amanah dengan yang lain.” Aku terdiam.

“Kalau kepepet, gimana? Dan lagi, kayaknya lebih banyak kepepetnya,deh,” sahutku.

“seandainya terjebak, segeralah keluar dari situasi itu.” Aku manggut-manggut.

”Kok diam saja?” Rina menegur ku.

Aku belum sempat menjawab ketika tiba-tiba Fitri,teman kost yang lain,memanggil dari ruang makan.

“Avi…!telepon buat kamu.”

“Dari siapa?!”tanyaku sambil siap-siap beranjak untuk menerima telepon tersebut.

“biasa…! Taufik!”

“Tuh kan, Rin…”Ujarku lemas.

“Cepetan!”teriak Fitri lagi.

”Telepon umum, tuh…!”

“Bilang saja aku belum pulang!” aku terduduk kembali.

“Lho,Vi?”Tanya Rina

”apakah untuk hal semacam ini kamu perlu berbohong? Lekas sana, terima telponnya,” lanjutnya lagi.

Fitri kembali berteriak, ”Hei…kasian,tuh, koinya Cuma tinggal satu." akhirnya dengan langkah malas aku menghampiri meja telepon dan meraih gagang horn.

“Hallo, assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikumus salam…kok lama sekali? Saya Cuma mau minta besok kamu datang lebih awal. Masih banyak berkas dan catatan yang harus disiapkan untu pleno besok.Dan juga masih ada satu surat yang harus dikirim sore ini.Jadi,saya tunggu di sekertariat sekitar jam 16.00.bisa,kan?” Aku terdiam.bagaimana aku harus menolak?

“Hallo…kamu masih di situ,kan?”

“Eh,iya.mmmm…insya allah…!" sahutku dengan nada malas.

“kok sepertinya kamu sedang malas? kenapa ?sakit?” Aduh,Taufik.kamu ngga usah perhatian begitu,donk…,ucapku dalam hati,takut nanti rasa ge-erku semakin membengkak.

“Nggak.Cuma kecapekan aja.semalam saya begadang untuk kuis akutansi biaya tadi pagi.Kebetulan saya baru aja pulang,jadi belum sempat istirahat.”

“Oh,maaf kalau begitu.tapi tolong diusahakan,ya…? I need your help, please…,” ujarnya dari seberang sana. Nadanya memelas sekali.

“he-eh, deh…”ucapku akhirnya menyanggupi permintaanya.

“Okey jazakillah, ya, ukhti… Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumus salaam wa rahmatullah…” klik! Kuletakan gagang horn, dan beranjak memungut tasku yang tadi kulemparkan ke atas sofa.

Dengan langkah gontai aku melangkah kea rah kamarku yang berada di sebelah ruang tamu. Malam itu kuhabiskan dengan menimbang-nimbang pesan Rina. Sahabatku itu sangat bijaksana. Pandangan-pandanganya kurasa penuh kedewasaan. Ia hanya berpesan singkat padaku,”aku yakin kamu mengerti adab-adab dalam pergaulan.” Aku mengangguk yakin. Kalimatnya pelan,namun penuh penekanan. Kalimat itu juga mampu membangkitkan sugesti pribadiku. Hal ini membuat aku bersemangat untuk membuktikan bahwa kepercayaannya terhadapku tak akan aku sia-siakan. *************

Aku asyik memainkan jari-jariku di atas tuts kibor. Masih beberapa lembar lagi. Kulirik angka yang tertera di pojok kanan bawah layar monitor. Pukul 17.20 pm. Mudah-mudahan sang ketua berhalangan.Amiin… Aku berhenti sebentar sambil meneguk aqua dingin yang kuambil dari dispenser. Namun tiba-tiba aku menangkap bayangan orang lain terpantul di layar monitor. Ah, ternyata Taufik datang juga. Kini mengerjakan tugas dengan leluasa, hilang sudah.

“Assalamu’alaikum,” sapanya ketika sampai di depan pintu secretariat. Kemudian ia membuka sepatunya dan melangkah masuk ke dalam ruangan. Aku menahan nafas sebentar lalu menjawab salamnya. Kemudian pandanganku kembali ke layar monitor, melanjutkan pekerjaan ku yang terhenti sejenak.

“Maaf, aku telat,” lanjutnya yang ku biarkan tanpa tanggapan.

”Sendirian?” Aku mengangguk .

“Masih berapa lembar lagi?” lanjutnya.

“Lima, termasuk AD/ART,” jawabku sesingkat mungkin.

“Bagus. Kalau surat untuk Pudek II ?”

“Sudah. Saya taruh di meja.” Ia beranjak menuju meja kerjanya dan memungut selembar surat yang tadi aku buat. Suasana hening sejenak. Keheningan menyergap kami berdua dalam ruangan dingin ini. Namun tiba-tiba….. DUARR!!! Suara petir yang menggelegar mengagetkan ku. Ku lihat Taufik juga sempat terlonjak dengan suara menggelegar tadi. Astaghfirulloh…,” ucap kami nyaris bersamaan.

Perasaan ku semakin tidak tentram dan ku rasakan tangan ku mulai terasa dingin. Cuaca di luar sana terlihat tak bersahabat. Alloh, bantu hamba menenangkan perasaan ini…., do’aku dalam hati. Aku berusaha menenagkan pikiran dan perasaan ku yang tidak menentu. Aku benar-benar tidak bisa menikmati suasana ini. Ku perhatikan bayangan Taufik lewat monitor. Ia tampak tenang-tenang saja membaca buku nya. Agaknya ia tidak sadar kalau aku sedang mengamati dirinya. DUARR!!!! Kali ini suara petir lebih keras. Kembali aku istighfar. Petir kali ini lebih ku rasakan sebagai teguran Alloh terhadap rona-rona di hati ku.

“Apa yang telah ku lakukan, ya Alloh? Ampuni hamba….,” ucap ku pelan. Aku menghela nafas panjang. Dan seketika itu juga…. Splash….! Lampu padam. Ruangan yang tadi di terangi oleh neon sebesar sepuluh watt kini menjadi gelap. Hanya remang-remang cahaya sore yang gelap menembus melalui kaca jendela di belakang meja Taufik. “ innalillah… kenapa aku bisa ceroboh begini, sih?”

“Ada apa Vi?” Taufik mendekati ku yang sedang kebingungan.

“Yaa… bayangkan saja, sudah empat belas halaman, tapi aku lupa ngesave. Ngg… maaf, Fik,” ucapku takut-takut.

“Lalu?” bukan itu ucapan yang aku inginkan, gerutuku dalam hati. Sejenak aku melupakan perasaan galauku yang tadi sempat mengganggu, berganti dengan perasaan gugup. Tiba-tiba Mang Jana muncul di depan pintu dengan membawa senter.

“Maaf , Neng. Sekeringnya sengaja Mamang matikan, takut kesambar petir,” katanya ringan tanpa dosa.

“Aduh, Mamang… kalau mau ngapa-ngapain bilang dulu, kek. Vi kan lagi ngetik, Mang…. Hilang semua, deh, kerjaan Vi.“ Aku ber sungut-sungut kesal.

Aku tahu pasti, pipiku agak cembung saat ini, pertanda aku sedang menahan kesal.

“Maaf, Neng..maaf… Mamang nyalakan lagi, yah?” ia membujukku dengan logat sundanya yang kental dan kemudian berlalu dari hadapan ku. Aku terdiam sambil terus memandangi layar monitor yang kini berwarna hitam.

“Ya sudah, biar nanti ku bantu,” ucap sang ketua menghibur ku.

Aku tetap diam. Suasana kembali hening, sementara hujan di luar semakin deras. Sesekali terlihat kilat menyambar, membentuk ranting pohon yang menyala terang.

“Vi… apa kamu pernah punya masalah berat?” Tanya Taufik tiba-tiba memecah kesunyian di antara kami. Hening kembali.

“Kenapa?” sahutku akhirnya.

"Rasanya…saya ingin sekali pergi jauh untuk menghindari masalah ini. Saya lelah dituntut untuk berbuat sesuatu di luar kemauan saya. Saya selalu dipaksa menuruti kehendak orang tua dan keluarga. Mentang-mentang saya anak tertua, saya di paksa untuk menikah dengan gadis pilihan orang tua saya, padahal orang itu tidak sesuai dengan yang saya harapka. Tidak berjilbab pula.” Aku masih asyik menyimak tanpa member komentar.

Sedangkan saya…., saya masih ingin melanjutkan study Vi. “Kamu ingin komentar saya Fik? Pergi saja ke Ambon,” ucapku se kenanya.

Aku tidak ingin percakapan ini berlangsung lebih lama. Bisa-bisa malah menimbulkan perasaan yang aneh-aneh, mengingat Taufik termasuk orang yang pendiam dan tertutup. Ia terdiam. Ku lihat ia mengerutkan keningnya sambil memainkan lembaran-lembaran buku di tanganya. Kali ini aku tudak memandang melalui layar monitor. Ya, aku duduk menghadap ke arahnya, membuktikan bahwa aku telah menjadi pendengar atas keluhannya. Dan tiba-tiba, byar! Lampu kembali menyala. Ruangan kembali terang benderang. Sesaat aku sadar, kemudian dengan sigap membalikkan tubuh ku kembali menghadap monitor.

"Horee… nyala!" Sorakku.

“Vi, biar saja nanti saya yang mengerjakan. Lagi pula sudah maghrib. Kalau mau di ulang lagi,bisa sampai jam berapa? Nggak baik akhwat pulang terlalu malam."

 Duh, lagi-lagi penuh perhatian. “Tapi di luar masih hujan….”

"Kamu bawa payung?"

Aku menggeleng.

"pakai payungku saja. Kebetulan saya bawa. Nih,” Ia menyodorkan payung biru bermotif kembang-kembang kuning.

“Saya duluan, nggak apa-apa?” ia mengangguk yakin.

“Maaf, kalau saya merepotkan. Seharusnya ini kan sudah menjadi tugas saya.” Saya juga terlalu ceroboh, kenapa lupa ngesave.

” Ya sudah, hati-hati, ya….!” Itu ucapan terakhir yang ku dengar sore itu.

Setelah mengucapkan salam, aku bergegas menembus hujan yang tetap mengguyur bumi. Maafkan aku,Taufik.

*************

Otakku kembali berfikir tentang keadaan Taufik saat ini. Sudah satu bulan setelah pleno, ia tidak lagi muncul di kampus. Tugas-tugasnya sebagai ketua BEM menumpuk di pundakku kini. Belum lagi ulah para penggemarnya yang selalu bertanya banyak hal. Memangnya aku inangnya Taufik?

“ Aviii….! Telepon buat kamu lagi. Ini sudah yang kesebelas. Mau di terima lagi nggak?” teriakan Fitri mengagetkan lamunan ku.

“Nggak.”

“Tapi ini dari cowok.”

“Pokoknya nggak! Titik!” Sekilas ku dengar Fitri berbicara.

“Avi, ini tentang Taufik. Katanya ada kabar baru!”

Aku kaget luar biasa. Aku seperti melayang, dan jantungku berdebar kencang. Taufik ? “Diterima nggak?”

“Iya, sini. Biar aku terima.” Aku bergegas bangkit dan beranjak menuju meja telepon.

“ Hallo, Assalamu’alaikum…!”

“Wa’alaikumussalam. Ini Avi? Ini aku Amin. Aku hanya ingin mengabarkan bahwa Taufik……,” suara di sana terdengar melemah. “Ada apa dengan Taufik? Dimana dia?”

“Alhamdulillah…. Taufik kini masuk dalam jajaran syuhada di medan jihad Ambon.”

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…” perkataan Amin membuat seluruh tubuh ku lemas. Tak ku sangka Taufik mengikuti saran ku yang asal-asalan itu, padahal aku hanya sekedar ingin menghindar percakapan yang bisa melenakan hati.

“Hallo, Avi… kamu masih di situ?” Hanya isak tertahan yang keluar dari mulut ku. Tangan ku gemetar, badanku terasa kaku mendengar berita yang satu ini. Bumi yang ku pijak serasa berhenti berputa, tak percaya dengan apa yang baru saja ku dengar.

“Avi!Avi!” Amin masih memanggil ku dari seberang.

“Alloh…, Taufik….,” ucapku lemas. Horn yang ada di tangan ku terlepas begitu saja. Aku tergugu.

**************

Suara tetesan hujan masih turun satu-satu di atas atap. Sesekali ku dengar desahan angin menghempas daun-daun di luar jendela di iringi dengan suara ranting basah. Jangkrik yang biasanya ramai bernyanyi kini membisu, sebisu hati ku yang sepi. Hampa. Seakan mengerti akan hati ku yang basah. Pandangan ku tak lepas dari langit-langit kamar, kemudian beralih kepada payung biru ber motif bunga- bunga kuning yang ku gantung di dinding. Payung peninggalan Taufik yang terakhir. Aku belum sempat mengembalikannya sejak sore itu.

“Ach….,” desahku pendek.

Batinku yang masih terguncang,masih juga belum mampu menerima berita yang ku dengar siang tadi. Sekilas teringat kembali bayangan kejadian sore terakhir bersamanya. Kamu ingin komentar ku Fik? Pergi saja ke Ambon. Kata-kata terakhir itu masih terngiang jelas di telingaku. Aku megucapkannya tanpa memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku… Maafkan aku,Taufik… maafkan aku. Kriiing!!! Jam weker di atas meja Olympic mengagetkanku. Jam 02.00 dini hari. Kutekan tombol di belakangnya agar tidak terus berbunyi. Aku menarik napas panjang. Mataku belum mau terpejam, hati ku masih juga di hantui penyesalan yang mendalam.

Seandainya kata-kata itu tak ku ucapkan… “Astaghfirulloh….! Ampuni aku, ya Alloh.” Aku ber istighfar, menenangkan hati ku yang terus galau. Suara detik weker se irama dengan detak jantungku yang berdebar tak karuan. Aku mencoba bangkit dari dipanku yang sudah agak tua. Kepalaku terasa pening. Mataku sembab karena tak kuasa menahan tangis sepanjang sore tadi. Tak ku hiraukan panggilan Rina yang berkali-kali mencoba menghiburku dari luar. Pintu kamar ku ku kunci dari dalam, biar tak ada seorang pun yang mengganggu kesedihan ku ini. Aku sendiri heran, mengapa aku merasa begitu terpukuldan membiarkan hatiku terlena oleh kesedihan ini. Apakah aku….. tidak! Jangan sampai virus itu menyebar di hati ku. “Astaghfirulloh….!” Kembali aku ber istighfar untuk, kemudian ku angkat tubuh ku beranjak menuju kamarmandi di belakang rumah. Aku harus menghibur diri ku sendiri dengan ‘curhat’ kepada Yang Maha Kasih. Udara terasa semakin dingin.

*************

Ku usap wajah ku se usai mengucap kan salam. Mataku basah. Aku termenung, sesaat kemudian ku angkat kedua tangan di balik mukena putih ku. “Ya Alloh…apa yang telah terjadi dengan hamba? Wajarkah jika hamba mengagumi ciptaan –Mu yang agung? Salahkah bila hamba mengharap sesuatu yang belum sepantasnya hamba dapatkan?” aku memulai pengaduan ku. “Alloh…! Hamba hanyalah segelintir makhluk dari sekian banyak makhluk yang telah Engkau ciptakan dengan sepurna. Hamba hanyalah seorang hamba yang punya cita, harapan dan cinta. Cita… untuk mendapatkan maghfirah Mu agar dapat mencapai surga-Mu. Harapan… untuk bisa meninggikan kalimat-Mu. Dan cinta…” Aku terdiam agak lama. Malu rasanya mengucapkan kata yang satu ini. “Cinta… hamba tahu, hanya ada satu cinta, yaitu cinta-Mu yang agung.” Kurasakan kain putih di tangan ku semakin basah. “Tapi… mengapa mesti ada cinta lain yang ters bermain di dalam hati ku, ya Alloh? Salahkah hamba bila mengharapkan apa yang menjadi harapan hidup hamba demi masa depan hamba? Harapan yang di dasarkan atas cinta-Mu, ya Alloh? Harapan yang menjadi sunnah-Mu dan sunnah Rosul-Mu?” Tubuhku semaki terguncang, tak kuasa menahan tangis. Samar-samar kudengar di luar sana hujan sudah mulai mereda. Hanya desir angin menghempas daun jendela yang mendengar keluh-kesahku mala mini. “Ya Alloh… hamba telah khilaf. Ampuni hamba-Mu yang telah lancang mengotori cinta-Mu yang Maha Suci. Jangan biarkan cinta it uterus menyebar di dalam hati dan pikiran ku, karena… hanya ada satu cinta. Cinta kepada –Mu…” Aku membenamkan wajah ku ke dalam telapak tangan yang gemetar. Ku biarkan kalimat demikalimat mengalir dari dasar hati ku yang paling dalam. Di sini, mala mini, aku ingin menangis sepuasnya. “Hapuskanlah cinta itu ya Alloh… karena hamba tak mampu menghapuskannya tanpa bantuan-Mu. Namun, jangan Kau hapuskan cinta hamba kepada-Mu. Hamba ingin senantiasa berada dalam pelukan kasih –Mu. Aghitsny …. Ya Alloh..” Aku masih terus menangis untuk beberapa saat yang lama. Hatiku merayu rindu Kasih ku pada-Mu syahdu Munajat hamba pada-Mu Mengharap kasih sayang-Mu… Ah…

*************

Hujan tadi malam membuat udara pagi ini dingin. Ku kenakan sweater merah kebesatran ku yang berukuran tripel L agar terasa hangat, kemudian melangkah keluar dan menapak di atas jalan ber kerikil. Ku hirup udara pagi ini, dan mengeluarkannya pelan-pelan. Ragu aku melangkahkan kaki melewati gerbang kampus yang ber cat krem muda. Kurasakan beberapa pasang mata menatap tajam kea rah ku. Aku menoleh benar dugaan ku. Uti dan teman-temanya tengah memandang sinis kea rah ku. Aku bergegas berlalu dari hadapanya sebelum terjadi perdebata panjang. Mataku mencari-cari sosok Amin. Aku melangkah cepat di atas koridor kemudian membelok di tikungan depan menuju secretariat BEM yang sudah seminggu ini tak penah ku kunjungi. Yah, tentulah tugas-tugas sudah menumpuk. Banyak program yang harus di lakukan pada bulan ini. Semoga Amin ada di sana. Ku letakkan tas di atas meja sesampainya di ruangan yang ku tuju dan menghampiri lemari pusaja, tempat aku menyimpan arsip-arsip. Jam yang tergantung di dinding menunjukkan pukul 08.20. Di ruangan ini tidak ada siapa-siapa. Sepi! Lima menit lagi Elfi datang. Biasanya aku memang memintanya untuk menemaniku di saat hatiku sedang bête. Butuh tausiyah. Aku sendiri menyesal, kenapa sore itu, saat terakhir bersama Taufik, aku tidak meminta Elfi untuk menemaniku. Pintu lemari arsip kubuka dan aku mulai untuk membenahi isinya yang sudah berdebu. Satu demi satu buku-buku kupisahkan dengan lembaran-lembaran lain. Setelah itu aku aku mulai menyusunnya kembali. Begitu pula dengan surat-surat masuk lainnya. Namun tiba-tiba mataku tertuju pada selembar amplop putih bertuliskan untuk Avi’. Surat dari siapa? Kuteliti lagi surat tersebut.warnanya putih dan sudah agak kusam karena debu.sejenak aku menghentikan kegiatanku dan beranjak menuju meja. Perlahan dan hati-hati kubuka sampul amplop yang tidak melekat dengan rapat itu. Sekilas kulihat sebuah nama di belakang kertas surat tersebut.Taufik. Dari Taufik? Aku seakan tak percaya. Belum lagi selesai kubuka surat tersebut, elfi sudah muncul di depan pintu.

“Assalami’alaikum. Dari tadi Vi?” Tanya Elfi.

“Walaikummus salam. Ah, enggak. Baru, kok,” Jawabku gugup sambil buru-buru menutup kembali surat di tanganku. Surat itu ku masukkan kedala saku tas depaanku.

“surat dari siapa, Vi?” “Ah, engga. Bukan apa-apa. Bantu aku merapikan ruangan ini, ya?”

“Oke, bos!” Tak sabar aku melangkah pulang ke kostku yang terletak agak jauh dari kampus.

Tah kuhiraukan angin yang bertiup, mengantarkan debu dan asap knalpot menghampiri wajahku yang berlumur keringat. Benarkah surat itu dari Taufik? Kapan ia menulisnnya? Kira-kira apa, ya, isinya? Apa yang ia ingin katakanan kepadaku lewat surat itu? Kepalaku dipenuhi tanda Tanya. Sepertinya di hadapankuterpampang huruf besar-besar berurutn, yakni T-A-U-F-I-K, seperti yang tertera pada kertas itu. Rasa penasaranku mengalahkan rasa lapar yang sedari tadi menggiggit-gigit lambung. Aku jadi lupa untuk mampir di warung Mbok Miem. Kuraih tas yang tergeletak di sampingku dan merogoh surat yang kuselipkan di saku depanya. Tanganku mulai terasa dingin. Jantungku kembali berdegub kencang. Perlahan tapi pasti, kubuka kembali amplop yang tadi telah terbuka setengahnya. Kukeluarkan lembaran yang terlipat rpi. Teruntuk sahabatku:Uhkti Avi Firzayani. Sejak kapan menganggapku sahabatnya. Assalamu’alaikum wr. Wb. Sebelum saya mohon maaf jika sekiranya surat ini mengganggu kegiatanmu. Sebenarnya sore itu aku ingin menceritaka semuanya kepadamu. Tentang masalahku, tentang gosip yang beredar mengenai kita, tentang jabatanku sebagai ketua, juga tentang kepergianku ke ambon. Jadi ternyata benar ia pergi ke Ambon? Tapisepertinya, keadaanya saat itu tidak memungkinkan. Aku maklum, mungkin kamu berusaha untuk menghindariku karena ingin menepis omongan teman-teman tentang keadaanyang rentan’ketua dan sekertaris’aku berusaha untuk memahami hal itu. Tapi entah kenapa sejak kapan, ada sesuatu yang terasa indah bermain-main di hatiku. Aku sendiri terlambat menyadirinya. Mohon dimaafkan jika kata-kata ini tak seharusnya kuutarkan. Sekalilagi aku mohon maaf. Allahu Rabbi, kenapa virus itu juga menular kepadanya? Kurasakan kepalaku mulai berdenyut.beban batin ini terasa semakin berat. Ukhti, saat rasa itu hadir, terus terang aku menjadi bingung untuk bersikap. Saya tak tahu harus bagaimana. Dan pada saat itu saya bersyukur sekali dengan keputusan Ustadz yang bermaksud mengirim saya. Mungkin ini sudah menjadi keputusan yang Allah berikan kepada saya, karena saya merasa saya telah mengotori cinta saya kepada Allah dengan menghadirkan sesuatu yang lain. Padahal saya berusaha utuk menjadi orang yang senantiasa hidup dengan kemuliaan atau mati dalam kesyahidan. ‘isy kariiman au mut syahiidaan.” Jadi, bukan karena aku ia pergi? Kenapa aku jadi ge-er begini? Ah, aku malu pada hatiku. Aku malu, ya Allah! Tak terasa dua butir menetes dari mataku, jatuh membasahi lembar surat di tanganku. Kuhembuskan napas dan kuhirup perlahan, kemudian kembali membaca pada lembaran yang kedua. Tentang kepergianku, sebenarnya sore itu genap satu bulan saya menjalani ‘training’ untuk dikirim ke medan jihad Ambon olem divisi kepemudaan bersama teman-teman yang lain. Jadi saat kamu membaca surat ini, bisa jadi saya sudah tidak lagi berada di bandung. Sengaja surat ini tidak kutitipkan lewat teman,melainkan ku masukan ke dalam lemari arsip, karena aku tau, hanya kamu yang berhak membuka lemari tersebut. Aku menyeka air mata yang terus tumpah. Tubuhku tergumcang. Aku tak tau apa yang kurasakan seperti apa yang kurasakan? Tapi untuk apa? Apa gunanya?toh ia kini telah syahid. “Astagfirullah.” Ukhti, mohon dimaafkan kalau saya terlalu jujur mengungkapkan ini semua. Bukan maksud saya untuk memberikan harapan baru kepadamu. Tapi untuk mengingatkan saya pribadi, juga kamu, bahwa hanya satu cinta, cinta kepada sang khaliq. Cinta yang indah, cinta abadi, bukan sekedar cinta yang semu. Ada satu hal yang yang saya rasa perlu saya sampaikan kepadamu, walaupun sebenarnya itu terutama untuk saya sendiri.saya berharap dengan semua rasa itu kita tidak menjadi orang yang sentimental, lantas meninggalkan semua amanah ini. Saya berharap kamu tetap tegar. Saya yakin kamu memahami akan hal iti. Medan dakwah kita memang menuntun untuk mempersiapkan diri terutama hati ini dengan lebih baik. Saya mohon maaf jika telah mengganggu nuansa hatimu. Sesungguhnya saya pun tak meng hendaki dan tak sanggupmenghilangkannya. Yang saya pahami, bagaimana membingkainya agar tidak menjadi pelanggaran dan kefatalan. Hanya jika ia menetapkan cinta itu untuk Allah, maka Allah akan memberikan balasan kepadanya dengan yang lebih suci. Para malaikat akan senantiasa mendo’akan. Darinya Allah memberikan keturunan yang menjadi penghibur baginya di dunia. Cinta itu menjadi cahaya baginya di dalam kubur.menjadi kebahagiaan baginya di akhirat kelak. Bukankah itu menjadi cita-cita setiap kita? Semog kau dapat mengerti. Selamat berjuang. Semoga Allah menyatukan kita dalam barisan orang-orang yang teguh dalam perjuangan. Maafkan saya. Tsummas salam. Sahabatmu,Taufik Aku tergugu.aku… aku mlu. Aku seharusnya iri kepadanya yang kini telah mendapatkan kemulian-Nya. Sedangakan aku? Menghadapi maut pun aku masih takut. “Ya Allah… terima kasih telah kautunjukan jalanya. Hamba mohon, luruskan dan bersihkan ‘cinta’ itu di dalam diri hamba.” Aku terisak sendiri. Cinta itu fitrah. Jangan kaubunuh cinta itu. Aku jadi teringat kata-kata pujangga kesayanganku. “jika demikian, biarkan cinta ini bersemayam demi cintaku kepada engkau, ya Allah.” Masih dengan terisak, kulipat kembalisurat itu dengan rapi. Kuhembuskan napasku. Ah, Taufik. Akan kuingan pesan ini. Medan dakwah kita memang menuntut untuk mempersiapkan diri,terutama hati ini dengan lebih baik. Kalimat itu terngiang-ngiang di telingaku. Di luar kembali terdengar suara angin berhembus kencang. Cuaca kembali mendung. Dedaunan kering gugur satu per satu, melayang di hempas angin, kemudian jatuh menyapa bumi. “Taufik, kepadamu cinta ini kutitipkan. Cinta yang suci. Cinta kepada sang pencinta .” aku bergumam pelan sambil meletakan kepala di atas bantal. Kukatupkan kedua kelopak mataku.Dalam hatiku, ada sesuatu yang hangat menjalar menyertai aliran darah. Sesuatu yang indah. Sesuatu yang… Allah… Aku terlelap.************* (Karya Isya Setyaningsih)
komentar (2) | | Read More...

Tukar Link



Copy Paste - Copyright by SIC
<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;">
<a href="http://www.santri-indigo.com/" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4X8slxtycBYdn18VtsohXTzJQmwJhkNtRDtbbJv7tnt5dqou5BIn6OIdm1e3Ql3YM9ZSckUHsSXwpPacPxnw067WXUa7S3TWTDVRYOVwdV5Jwi8aLdKMMMZrX3WtykfUBqAwhWBc3DtA/s150/SI.png" /></a></div>

Bagi yang sudah pasang silahkan tinggalkan komentar

Zona Aplikasi

Kolom Religi

Zona Blogger

Seputar Cilacap

Seni Musik

Zona Linuxer

Kegiatan

Otak - Atik

Cerita Pendek